Biografi Singkat Prof. Dr. K.H.M.A. Sahal Mahfudz ( 1937-2014 )


 biografi Prof. Dr. K.H.M.A. Sahal Mahfudz
Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, yang lahir di desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tenga, 17 Desember 1937, adalah putra KH Mahfudz Salam, ulama sepuh yang mendirikan pesantren Maslakul Huda pada tahun 1910. Nasab Kiai Sahal, berhulu pada KH Ahmad Mustamakkin, tokoh legendaris yang diyakini hidup pada abad ke-18.
Kiai Sahal adalah tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren. Pesantren sebagai bentuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia, dengan segala subkultur dan kekhasannya, telah membentuk pribadi dan karakter Kiai Sahal.
Dengan Membaca riwayat hidupnya, kita akan segera dapat menyimpulkan bahwa seluruh kehidupan dan aktivitas Kiai Sahal selalu terkait dengan dunia pesantren. Pesantren adalah tempat mencari ilmu dan sekaligus tempat pengabdiannya. Dedikasinya sebagai pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan ilmu fikih, tidak pernah diragukan. Ia bukan hanya seorang ulama yang ditunggu fatwanya, seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, seorang pemikir yang menulis ratusan risalah berbahasa Arab dan Indonesia, tapi juga aktifis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil disekelilingnya.
Peran dalam organisasi pun sangat signifikan, terbukti tiga periode menjabat Rais Am Syuriah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sejak tahun 1999, dan ketua umum MUI sejak tahun 2000. Selain jabatannya di atas, jabatan lain yang pernah beliau emban adalah rektor Inisnu Jepara , Jawa Tengah ( 1998-wafat), dan pengasuh Pondok Pesantren Masakul Huda, Kajen, Pati (1936-wafat).
Kiai Sahal memang nahdiyyin tulen. Sikapnya dalam berbagai problematika sosial selalu menjunjung tinggi sikap tawasuth( moderat ),  tawazun, dan tasamuh ( egaliter ), yang menjadi ciri khas ulama NU. Tulisannya yang tersebar di berbagai media dan buku-buku karyanya menunjukkan mantan MUI Jawa Tengah itu mempunyai perhatian mendalam terhadap berbagai isu, mulai dari pengembangan pesantren, ukhluwah islamiyah, penanganan zakat, dinamika dalam NU, manajemen dakwah, hingga penuntasan kemiskinan.
Sosok Kiai Sahal memang luar biasa. Penampilannya selalu bersahaja, tenang dan lugas dalam berbicara, tetapi tidak berkesan menggurui. Padahal ia adalah nahkoda kapal besar ulama bernama Nahdlatul Ulama dan MUI, yang fatwa-fatwanya sangat menentukan gerak langkah kedua wadah bernaungnya para kiai tersebut.
Kiai Sahal wafat pada hari Jumat, 24 Januari 2014, dini hari, pukul 01.05 WIB di kediamannya, komplek Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, Jawa Tengah dalam usia 78 tahun.

Post a Comment

- Comment dilarang spam-menyebarkan link
- Untuk mendapatkan backlink berkomentarlah menggunakan gmail / openid
- Dilarang komentar 'dewasa'
-Sharing is Caring. Jangan lupa like fanpage kami

Refano Pradana

{google-plus#https://plus.google.com/u/0/112244076923112035800/} {pinterest#https://id.pinterest.com/apsdbgsmgs/}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget