Meningkatkan Kualitas Diri Menjadi Lebih Fitri?

bagaimana meningkatkan kualitas diri menjadi fitri?

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala karunia dan nikmat yang telah dianugerahkan  kepada kita. Begitu banyak karunia Allah tersebut, sehingga kita tak akan mungkin mampu menghitungnya. Allah berfirman “wa in ta’udduu ni, matallahi la tuchshuuhaa”. Dan jika kamu mencoba menghitung-hitung nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, pasti engkau tidak akan mampu menghitungnya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba Allah yang pandai bersyukur. Dan marilah kita selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas taqwa kita terhadap Allah SWT karena taqwa adalah bekal utama ketika menghadapNya.
 Itulah yang ingin kita capai saat kita menjalankan ibadah puasa ramadhan kita. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah : 183 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa (ramadhan) sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa

Puasa ramadhan telah kita lalui. Ada berbagai perasaan yang mungkin berkecampuk dalam hati kita ketika ramadhan itu meninggalkan kita, ada yang senang, sedih, ada pula yang biasa-biasa saja. Bagaimana denganmu? Apapun kondisi perasaan kita itu, kita menyadari bahwa puasa ramadhan telah memberikan kita  sesuatu yang sangat bermakna. Setidaknya, ramadan telah mengajarkan kita untuk mampu menahan diri. Suatu proses yang luar biasa untuk mencapai keberhasilan hidup, baik duniawi maupun ukhrawi. Kita dilatih  untuk  menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya dibolehkan, seperti makan dan minum, yang dilakukan dengan penuh kesadaran, kejujuran dan tanggung jawab yang diniyatkan untuk memperoleh ridla Allah SWT. implikasi dari proses ini tentu kita didorong untuk mampu menahan diri dari sesuatu yang mubadzir, yang tidak berguna. Lebih-lebih kita dituntut untuk mampu menahan diri dari sesuatu yang dilarang, yaitu perbuatan dosa dan maksiat.
Selain itu, puasa ramadhan juga telah mengajarkan kita untuk mengembangkan kebiasaan yang baik dan mulia. Diantara amalan  yang biasa kita lakukan adalah sholat tarawih dan kegemaran membaca al-Quran. Amalan-amalan ini adalah sesuatu yang sangat didorong dan terus menerus ditingkatkan kualitasnya. Allah SWT berfirman  (Al Isra’ :79).

“Dan pada sebagian malam, maka bertahjudlah kamu sebagai tambahan ibadah bagimu. Semoga yang sedemikian itu Tuhanmu akan mengangkat derajatmu pada kedudukan terpuji”


Rasulullah SAW bersabda:


“bacalah  Al Qur’an itu, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu nanti di hari kiamat akan datang memberikan syafaat bagi para pembacanya
” HR Muslim

Hal lain yang juga biasa kita lakukan di bulan Ramadhan adalah kita mudah sekali bersedekah, atau malah senang bersedekah. Ini sesuatu yang patut kita pertahankan,bahkan kita tingkatkan. Sedekah adalah sesuatu amalan yang sangat didorong dalam islam dan menjadi salah satu sarana untuk mencapai derajat taqwa (ali imran : 134). Sedekah merupakan salah satu instrumen untuk mengatasi kesenjangan sosial dan sarana yang sangat ampuh untuk membangun kepedulian sosial dan rasa kebersamaan. Itu telah dibuktikan oleh lembaga sosial yang mengumpulkan sedekah masyarakat untuk ikut mengatasi persoalan sosial dunia. Bahkan bagi kalangan pebisnispun meyakini bahwa ‘The power of giving’ itu mampu meningkatkan ‘profit dan benefit’ dari usaha mereka. Ungkapan yang sering muncul dari mereka adalah “giving is a beautiful experience”. Tentu, kita sebagai umat Islam harus lebih yakin dengan itu itu semua. Bukankah Allah telah menjanjikan  akan melipatgandakan ganjaran/benefit apabila kita mau bersedekah? Allah SWT telah berfirman dalam surat Al Baqarah: 261

”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, setiap tangkai akan menghasilkan seratus biji benih, Allah melipat gandakan  (balasan) bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) dan Maha Mengetahui”.
Beberapa waktu yang lalu kita telah merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu kita, yaitu hari raya idul fitri. Idul fitri berarti kembali pada fitrah. Fitrah berarti bisa diartikan sebagai kembali suci, suci dari dosa-dosa kepada Allah. Fitrah itu bisa kita capai apabila kita selama ramadhan itu betul-betul menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya berharap ridla Allah SWT, maka akan diampuni oleh  Allah segala dosa yang telah lalu”.
(HR. Ahmad dan Nasai)

Kefitrian kita itu akan menjadi sempurna apabila kita juga berusaha membebaskan diri dari dosa-dosa anak Adam, yaitu suatu perbuatan dosa yang hanya bisa dihapus dengan saling menghalalkan dan saling memaafkan antar sesama kita. Kita memiliki budaya yang anggun dan sangat bagus dalam hal ini, yaitu tradisi saling memberi maaf diantara kita. Tradisi ini tumbuh dari tuntunan Rasulullah SAW.


“Ada tiga jenis orang yang Allah akan memudahkan hisabnya nanti di hari kiamat, dan Allah akan memasukkannya ke dalam surga-Nya dengan Rahmat-Nya. Para sahabat bertanya: siapa mereka itu ya Rasul Allah? Rasulullah menjawab: kamu memberi kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu, kamu menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya kepadamu, dan kamu memaafkan kepada oran yang pernah dhalim kepadamu”.
                                                                                                              
Lantas bagaimana juta memaknai ketika kita memasuki bulan Syawwal ini? Dari pengertian bahasa Syawal berarti ‘irtifa’, yang berarti peningkatan. Peningkatan mengandung maksud agar apa yang telah kita capai selama bulan ramadan itu sebaiknya ditingkatkan terus. Ada sabda Nabi SAW yang perlu kita cermati.

“Barangsiapa yang hari ini lebih burukk dari hari kemarin, maka dia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Dan barangsiapa yang hari ini  lebih baik dari hari kemarin, maka dialah yang beruntung”.

Kata-kata diatas telah disampaikan Nabi Muhammad SAW sekitar 14 abad yang lalu. Kalau kita perhatikan dengan seksama, ternyata kata-kata tersebut sangat berkembang pada saat ini, yaitu konsep ‘continuous quality improvement’, yaitu peningkatan kualitas secara berkelanjutan.

Merujuk kepada sabda Nabi di atas, tentu kita tidak ingin termasuk orang-orang yang merugi, apalagi orang-orang yang terlaknat. Kita semua ingin menjadi orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, bagaimana agar kita bisa masuk ke dalam golongan orang yang beruntung tersebut, yaitu ‘hari ini lebih baik dari hari kemarin’? sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu tahu terlebih manusia yang ‘baik’ itu yang seperti apa. Dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi banyak disebutkan kriteria manusia yang ‘baik’ itu yang seperti apa. Dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi banyak disebutkan kriteria manusia yang baik itu, di antaranya adalah orang yang beriman, beramal shalih, yang suka bersedekah, yang mendirikan sholat,yang membayarkan zakat, yang memenuhi janjinya, yang sabar, yang bertaqwa, dan sebagainya masih banyak lagi.

Kita lihat, semua yang disebutkan tadi adalah kriteria manusia yang baik. Kriteria memiliki makna yang sama dengan ‘standar’ atau ‘benchmark’. Kita kenal istilah ‘benchmarking’, yaitu meniru best practices, mencontoh saja “yang terbaik”. Nah, sebagai manusia, kemana kita akan melakukan benchmarking kepada manusia tersebut? Subhanallah, ternyata dalam diri Rasulullah SAW kita temukan best pactices tersebut. Rasulullah adalah standar manusia. Hal ini diungkapkan oleh Allah dalam surat Al Ahzab: 21

Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharapkan ridla Allah dan hari akhir dan banyak ingat kepada Allah”

Pengakuan ini bukan hanya bersifat apologetik kita, tetapi dunia dan sejarah telah mengakui akan kebenaran bahwa Rasulullah adalah ‘standar manusia’. Salah satu pengakuan itu ditulis oleh Michael Hart dalam bukunya “The 100 a rangking of most influential person in history”.

Sekarang kita lihat definisi mutu atau kualitas yan banyak dipakai diseluruh dunia. Sesuatu itu dikatakan bermutu apabila ‘sesuai dengan standar’. Dengan demikian, manusia yang bermutu adalah manusia yang sesuai dengan standar. Standar manusia adalah Rasulullah SAW. Jadi, manusia yang bermutu adalah manusia yang sesuai dengan ciri-ciri atau kriteria yang ada dalam diri Rasulullah SAW tersebut.

Bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas kita itu, agar kita bisa menjadi semakin sesuai dengan standar manusia?

Untuk bisa meningkatkan diri kita, tentu kita perlu memiliki baseline data diri. Kita perlu mengecek bagaimana kualitas diri kita hari ini dan sejauhmana kita sesuai atau menyimpang dengan standar tersebut tersebut.

Untuk pertanyaan di atas, ada satu cara yan perlu kita lakukan, yaitu evaluasi diri (self evaluation). Evaluasi diri memiliki makna yang sama dengan melakukan audit internal tersebut, sederhananya yaitu melakukan ‘refleksi’. Untuk mudahnya, refleksi itu seperti memandang diri kita di depan cermin. Cermin merefleksikan diri kita apa adanya. Refleksi yang dilakukan secara benar dan jujur pada suatu cermin yang bersih dan utuh, akan menunjukkan kepada kita informasi apa adanya tentang diri kita. Sehingga noda yang menempel pada diri kita akan mudah dikenali, dan diharapkan kita mau berusaha untuk membersihkannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat disibukkan oleh berbagai urusan, mulai dari urusan keluarga, urusan pribadi, urusan sosial, lingkungan disekitar, atau tidak sempat meluangkan waktu untuk melakukan evaluasi diri. Sebenarnya  Allah SWT telah menyediakan sarananya. Hanya saja kita sering mengabaikannya. Allah telah menyediakan shalat lima waktu bagi kita yang bisa kita gunakan untuk refleksi diri tersebut. Bisa kita bayangkan, betapa hebatnya pribadi-pribadi muslim apabila setiap hari melakukan evaluasi secara berkala dan terus menerus memperbaiki dirinya. Dan benar bahwa diantara ciri-ciri muslim yang baik, muslim yang bertaqwa itu, adalah muslim yang reflektif. Sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam surat Ali Imran (135) yang artinya:

“adalah orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji dan dhalim kepadaNya atas dosa-dosa mereka, mereka segera ingat kepada Allah dan mohon ampunan kepadaNya atas dosa-dosa meeka. Dan hanya Allah yang bisa mengampuni dosa-dosa tersebut. Dan mereka berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi, dan mereka mengetahui”.

Bulan Ramadan adalah bulan yang Allah telah menyediakan waktu khusus bagi kita untuk melakukan audit internal secara total. Selama sebulan penuh kita didorong untuk melakukan berbagai amal shalih agar hati kita menjadi bersih, jiwa kita menjadi bening. Dalam bulan ini kita juga didorong untuk banyak melakukan kajian-kajian agama Islam, melakukan tadarrus dan tadabbur al Qur’an. Dengan demikian, kita semakin memahami perintah-perintah dan larangan Allah SWT. kita semakin menyadari akan kriteria atau standar yang harus kita capai, dan kita semakin mengetahui sudah sejauh mana pencapaian kita itu.

Agar pencapaian kita dalam menjalankan ibadah puasa yang lalu menjadi sempurna, maka beberapa hal ini layak kita renungkan untuk kita lakukan:



1.               Marilah kita terus berusaha untuk melatih diri kita menahan dir dari perbuatan-perbuatan yang mubadzir, lebih-lebih perbuatan-perbuatan yang mengandung unsur maksiyat dan dosa.

2.               Kita pertahankan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah kita lakukan di bulan-bulan berikutnya, seperti shalat malam, membaca al Quran dan kegemaran kita bersedekah.

3.               Kita tangkap semangat syawal atau peningkatan ini dengan terus menerus melakukan evaluasi diri atau audit internal karena kita ingin masuk kelompok ‘orang-orang yang beruntung’, yang hari ini lebih baik dari hari ini, dan seterusnya, yang insyaallah dalam perjalanan hidup kita nanti akhiri dengan chusnul khatimah.

Mudah-mudahan dengan demikian, kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur, hamba-hamba Allah yang bisa mencapi taqwa, dan hamba Allah yang msauk golongan orang-orang yang beruntung’.

Idul Fitri Quotes Walpaper
Terima kasih sudah berkunjung di blog saya. Kalau artikelnya membantu tolong like fanspage fb, follow twitter atau subscribe, Anda hanya memerlukan waktu kurang dari 2 menit untuk membuka sebuah artikel website ini, sedangkan saya perlu beberapa jam, bahkan berminggu-minggu untuk memposting satu artikel, kalau artikelnya kurang membantu tolong berikan saran yang baik, dilarang spam dan bertasbih kotor di website ini.
Labels:

Post a Comment

- Comment dilarang spam-menyebarkan link
- Untuk mendapatkan backlink berkomentarlah menggunakan gmail / openid
- Dilarang komentar 'dewasa'
-Sharing is Caring. Jangan lupa like fanpage kami

Refano Pradana

{google-plus#https://plus.google.com/u/0/112244076923112035800/} {pinterest#https://id.pinterest.com/apsdbgsmgs/}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget