Mungkin yang digarisbawahi merupakan salah satu "kata bijak yang usang" di lihat dari era yang kita pijak sekarang. Aku memang tidak begitu pandai dalam merangkai kata, tapi bagaimanakah kalau seperti ini.
Apa yang sedang kita hadapi adalah apa yang ditinggalkan penjajah.
Gedung? Jembatan? Jalan? Apa yang ditinggalkan?
Terus terang Bangunan yang ditinggalkan penjajah adalah positifnya, bahkan lebih baik. Yang saya maksud adalah sifat yang ditinggalkan penjajah. Apa yang telah merenggut kemerdekaan kita, nafsu mereka yang seperti binatang buas, mana mungkin kita mau (betah) bersama seseorang yang menyergap kita dengan alasan keuntungan diri belaka?
Sejak SD kita sudah tahu dan mengenal devide et impera, yaitu sebuah politik memecah belah kedua kubu. Adu domba kerennya, baik memanasi raja pribumi dengan kabar bahwa 'tetangga sebelah' sedang merencanakan kudeta, ataupun menawarkan kita dengan wanita dan harta: Akhirnya kita dapat melihat pertempuran sia-sia antara kerajaan di nusantara, bagai bertarung dengan diri sendiri. Tentu yang hancur diri kita sendiri.
Nah, ternyata-ternyata, kelicikan penjajah ini sudah mendarah daging di kita-kita, bagaimana mungkin kita yang dulunya sebagai korban bisa ikut-ikutan ya?
Misalnya saja dalam berpendapat, ataupun dalam dunia politik, praktek devide et impera (politik adu domba) biasa digunakan untuk menyudutkan suatu kubu maupun menarik simpati publik. Misalnya saja kritik terhadap Presiden, maupun gubernur sekalipun.
Post a Comment
- Comment dilarang spam-menyebarkan link
Emoticon- Untuk mendapatkan backlink berkomentarlah menggunakan gmail / openid
- Dilarang komentar 'dewasa'
-Sharing is Caring. Jangan lupa like fanpage kami
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.