Articles by "agama"

Ilmu Tawassul

Apa itu Tawassul?

Tawassul sendiri memiliki banyak penafsiran, baik dalam memahami atau mengamalkan. Tidak jarang kita mendengar tuduhan-tuduhan yang memusyirikkan, padahal sudahkah kita mengetahui dalil-dalil tawassul dari Hadis maupun al-Qur’an, bahwa tawassul merupakan metode bagi orang yang beriman. Menurut al-Hafizh al-Abdari, tawassul adalah memohon datangnya manfaat atau terhindarnya bahaya kepada Allah dengan menyebut nama nabi atau wali untuk memuliakan.
Munculnya ide tawassul dalam berdoa bermula dari ayat yang artinya,

“jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yanh khusyu’.” (QS. Al-Baqoroh: 45).

Dalam ayat lain Allah SWT juga menyebutkan, “... dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 35). Ayat ini memerintahkan untuk mencari segala cara yang dapat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya carilah sebab-sebab itu dan kerjakanlah sebab-sebab itu maka Allah SWT akan mewujudkan akibatnya.

Allah telah menjadikan tawassul dengan para nabi dan wali sebagai salah satu sebab dipenuhinya permohonan hamba, meskipun Allah maha kuasa untuk mewujudkan akibat tanpa sebab-sebab tersebut. Oleh karena itu, kita diperkenankan untuk bertawassul dengan menyisipkan para nabi dan wali dengan harapan agar permohonan kita dikabulkan oleh Allah. Yang perlu dipahami, tawassul bukan berarti memohon kepada orang yang dijadikan sebagai sarana tawassul untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan kita. Namun, tujuan tawassul adalah sebagai salah satu langkah mendekatkan diri kepada Allah melalui perentara mereka yang merupakan orang-orang yang dekat dengan Allah.


Sebenarnya bertawassul memiliki tatacara. Di sinilah sering terjadi kesalahan, terutama kalangan awam yang kurang mencicipi pendidikan keagamaan. Hal ini menjadikan sasaran empuk bagi kalangan luar Aswaja. Sebenarnya simpel saja, tawassul itu tak ubahnya berobat ke dokter. Dokter sebagai perantara untuk mengobati penyakit, tetapi kita tetap harus berkeyakinan bahwa semua dari Allah SWT sebagaimana yang sudah dijelaskan. Untuk perkataan mungkin saja bisa berbunyi, “Dokter, tolong obatilah aku supaya aku cepat sembuh!” atau “Kyai, saya minta ilmu yang bermanfaat dan barokah!” tapi dalam hati tetap dalam keyakinan bahwa semua datang dari Allah SWT.

Tawassul adalah sebab yang dilegalkan oleh syara’ sebagai sarana dikabulkannya permohonan seorang hamba. Tawassul dengan para nabi atau wali dibolehkan baik disaat mereka masih hidup atau mereka sudah meninggal, karena dalam ber-tawassul meninjau amal baik orang tersebut, bukan hidup matinya. Para nabi dan wali tidak lain hanyalah sebab dikabulkannya permohonan hamba karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka.


Ketika seorang nabi atau wali masih hidup, Allah yang mengabulkan permohonan hamba. Demikianlah setelah mereka meninggal, Allah juga yang mengabulkan permohonan hamba yang ber- tawassul dengan mereka, bukan nabi atau wali sendiri yang mengabulkan. Sebagaimana seorang yang sakit pergi ke dokter dan meminum obat agar diberi kesembuhan oleh Allah, dia tetap harus berkeyakinan pencipta kesembuhan adalah Allah, sedangkan obat hanyalah sebab kesembuhan.


Syaikh Majdi Ghassan Ma’ruf al Husaini, seorang ulama Aswaja dari Lebanon ketika ditanya oleh seseorang, “Mengapa kalian ber-istighosah dengan mengucapkan ‘Ya Muhammad’. Ucapkan saja ‘Ya Allah”, tanpa perantara!”. Beliau balik bertanya, “kalau Anda sakit kepala apa yang akan Anda lakukan?” Ia menjawab: “Saya minum dua tablet obat sakit kepala”. Beliau berkata: “Mengapa Anda melakukan itu? Mengapa Anda membuat perantara untuk kesembuhan antara Anda dengan Allah? Bukankah Allah maha penyembuh?” orang tersebut terdiam seribu kata.
 

Jadi, jika obat adalah contoh sabab ‘adi ( sebab-sebab alamiah) dan tawassul adalah sebab syar’i (sebab-sebab yang diperkenankan syara’), maka berdoa dengan mengucapkan nama-nama nabi ataupun wali tidak ada bedanya dan buat apa diperdebatkan, tentunya semua itu boleh-boleh saja sebagaimana cerita diatas.

Rasulullah bersabda, yang artinya, “perangilah nafsu kalian dengan lapar dan dahaga, karena sesungguhnya pada keduanya terdapat pahala seperti pahalanya seseorang yang sedang jihad di jalan Allah. Dan sesungguhnya tidak ada amal yang paling disenangi dari Allah SWT dari pada lapar dan dahaga.

Pada hadis diatas Allah dan Rasul-Nya telah memberitahukan kepada kita betapa pentingnya perut kita selalu dalam keadaan lapar dan dahaga. Selain itu juga pasti kalian pernah mendengar berhentilah makan sebelum kenyang, mengapa?


Manfaat menahan lapar


Lapar memiliki banyak faidah. Di antara faidah lapar yang disebutkan dalam oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin adalah:

Tidak melupakan orang yang dilanda lapar

Hikmah Di Balik menahan lapar
Orang yang selalu lapar tidak akan melupakan orang yang sering dilanda lapar. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang perutnya selalu terisi kenikmatan-kenikmatan dunia maka orang tersebut akan melupakan nasib orang-orang yang dilanda lapar.

Tercegah dari segala maksiat yang ditimbulkan oleh syahwat

Orang yang senantiasa mengosongkan perutnya akan tercegah dari segala maksiat yang timbul dari kuatnya syahwat. Oleh karena itu, dari bahaya kenyang, Nabi Yunus As berrkata, “Aku tidak pernah merasa kenyang kecuali aku melakukan maksiat.”

Maka dari itu, jauhi perut kita dari kekenyangan, sebab Nabi Yunus As sendiri tidak merasa kenyang sebab orang yang kenyang akan mudah melakukan maksiat.

Tidak sering tidur dan selalu bangun


tips agar tidak sering tidur


Orang yang selalu lapar tidak akan banyak tidur dan selalu bangun. Sebaliknya, barang siapa yang banyak makan maka ia banyak tidur. Inilah salah satu alasan mengapa orang sering tidur – karena terlalu sering makan. Ada sebagian guru berpesan pada murid-muridnya ketika menghadiri makanan,
Wahai murid-murid janganlah kalian makan, minum, dan tidur berlebihan, maka kalian akan sangat merugi.” Orang yang banyak tidur, itu berarti ia sangat menyianyiakan usianya, dan mempunyai tabiat yang keras serta hati yang keras pula. Dengan perut yang selalu lapar, maka rasa kantuk tidak mudah menyerang. Sehingga waktu yang kita miliki bisa kita gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT

Mudahnya melaksanakan Ibadah

Tips agar giat rajin Ibadah


Orang yang selalu dalam keadaan lapar maka dia akan mudah melaksanakan ibadah, karena makan bisa mencegah dari berbagai rutinitas ibadah. Lagi pula makan membutuhkan waktu yang banyak, seperti waktu memasaknya atau waktu membelinya, juga setelah makan biasanya masih mencuci tangan dan yang lebih parah lagi membersihkan makanan yang masih melekat di sela gigi sehingga berkuranglah ibadah seseorang pada sang kholiq.

Badan sehat dari penyakit


Orang yang biasa lapar akan sehat dan jauh dari penyakit sehingga mudah melaksanakan rutinitas ibadah setiap hari. Sedangkan penyakit itu akan merepotkan ibadahnya dan mengganggu hati serta mencegah dari dzikir dan menyusahkan kehidupannya.

Dalam Ihya’ Ulumuddin diceritakan bahwasanya Harun ar-Rasyid mengumpulkan empat dokter di Irak, India, Ramawi, dan Negro. Kemudian Harun ar-Rasyid berkata, “ Coba kalian sebutkan obat yang tidak mengandung penyakit!”. Dokter dari India menjawab, “ Obat yang  tidak mengandung penyakit menurutku adalah tumbuh-tumbuhan yang hitam (al-ihlilijul aswad).” Dokter dari Irak menjawab, “Obat yang tidak mengandung penyakit menurutku adalah biji-bijian putih ar-rassyad ( hubburasyad al-abyadh).”

Dokter dari Romawi menuturkan jawaban yang berbeda, “Obat yang tidak mengandung penyakit menurutku adalah air panas.” Namun dokter dari Negro yang lebih mahir dari ketiga dokter tersebut menyalahkan semua jawaban dari ketiga dokter tadi karena semua obat itu mengandung penyakit. Kemudian ketiga dokter yang dianggap salah itu bertanya pada dokter yang dari Negro, “Apa pendapatmu tentang obat yang tidak mengandung penyakit?” Dokter dari Negro itu menjawab, “Obat yang tidak mengandung penyakit menurutku adalah hendaklah tidak makan sehingga kamu membutuhkannya.

Ringannya biaya hidup

Hikmah Di Balik lapar, mari kosongkan perutmu!

Orang yang selalu mengosongkan perutnya dia akan mudah membiayai kehidupan sehari-harinya, jika seseorang membiasakan diri makan sedikkit maka dia akan mudah membiayai kebutuhan sehari-harinya. Karena kebutuhan makannya hanya sedikit. Sedangkan orang yang biasa makan banyak maka dia akan banyak hutangnya.

Syekh Sahal at-Tatsturi berkata, “Orang yang banyak makan itu tercela. Bila orang banyak makan itu ahli ibadah, maka dia akan malas melaksanakan ibadahnya. Bila orang banyak makan tersebut orang kaya, maka dia tidak akan selamat dari bahaya.”

Walhasil, jika selama ini perut kita selalu terisi (kenyang) alangkah baiknya kita kurangi sedikit demi sedikit dengan harapan semoga kita selalu bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT dan mendapatkan ridha-Nya.

Akhir-akhir ini kaum wanita sudah mulai tertarik menggunakan jilbab untuk menutup aurat mereka. Ini merupakan hal yang menggembirakan, karena berarti mereka mulai memperhatikan perintah agamanya. Namun seiring itu, mulai pula bermunculan trend jilbab dengan berbagai gaya, bahkan sampai memperlihatkan lekuk tubuhnya. Memang aurat tertutup, namun lekuk tubuh tetap tergambar karena pakaian yang ketat. 

Bagaimana tanggapan  mengenai fenomena berjilbab perempuan sekarang?


Ya, memang dari satu sisi kita, muslimin dan muslimah merasa gembira mereka (yang belum) mulai pakai jilbab, diawali dari artis, mungkin niru-niru artis. Bagaimanapun kita selayaknya gembara mereka sedikit menambah menutup aurat, sekalipun itu masih belum sesuai. Tapi mudah-mudahan mereka makin banyak memakai jilbab, dan mudah-mudahan berubah kalau niatnya salah; niru artis atau karena meniru penampilan zaman sekarang. Mudah-mudahan mereka kembali kearah yang benar; niat mengamalkan syariat Islam.

Allah berfirman:

“Haruslah mereka itu mengendurkan jilbabnya sampai menutup”. QS. Al-Ahzab:59


Tinggal yang penting tokoh-tokoh itu supaya memberitahukan, terutaman mereka yang dekat, mereka yang bergaul, para kiai, ustadz-ustadzah. Di pengajian mereka yang hadir ada pria wanita. Itu yang penting. Memang bagaimanapun juga kalau pakai jilbab kemudian memakai celana ketat, itu pakai jilbabnya, ya gak salah, celana ketatnya itu yang perlu dibenarkan.

Jadi kadang wanita memakai pakaian tapi telangjang. Ini diantaranya, ya pakai pakaian yang ketat sehingga bodi tubuh itu tetap kelihatan seolah-olah mereka itu tidak berbusana. Mudah-mudahan mereka nanti sedikit berubah.

Jadi, yang dimaksud Berpakaian tetapi telanjang adalah mereka yang berpakaian tertutup tetapi sangat ketat, sehingga lekukan tubuh tetap terlihat.

Adakah standard dalam syariat Islam dalam berjilbab


Saya sendiri sebenarnya tidak tahu, entah standar bagaimana. Intinya itu adalah menutup aurat dari pandangan mata. Intinya itu sudah. Kemudian menutup aurat dari warna kulit. Tentang cara, saya sendiri tidak tahu apakah ada cara khusus. Akan tetapi yang dianjurkan yang saya tahu yang dianjurkan itu memang yang berwarna hitam, sehingga ketika Rasulullah SAW menyampaikan ayat ini ketika di Masjid Nabawi, kata Aisyah, mereka wanita Anshar itu menyobek-nyobek pakaiannya untuk menutup kepalanya dengan jilbab. Sehingga mereka itu keluar darimasjid seolah-olah dikepalanya itu ada burung gagak, warna hitam. Memang dari ini yang paling baik itu warna hitam, tetapi saya tidak tahu tentang hukumnya bagaimana. Saya kira masalah warna tidak harus hitam, tapi mungkin saja itu yang lebih baik.

Bersyukurlah mereka yang sudah memakai jilbab. Mereka sudah memberanikan diri untuk mengamalkan syariat  Islam. Kemudian yang masih belum betul, mudah-mudahan mereka berusaha untuk mengikuti yang betul. Yang perlu diketahui, bahwa mereka itu memakai yang seperti itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya, justru makin terlihat cantik , makin terlihat rapi dan makin terlihat menarik. Kemudian orang laki-laki bisa menilai mereka sebagai wanita yang baik-baik, akhlaknya mulia, dan sebagainya. Jadi sama sekali tidak ada kerugiannya disini.

Yang terpenting, tokoh-tokoh yang bergaul dengan mereka memberitahukan, berterimakasih pada mereka, kemudian supaya diluruskan dengan cara yang halus. Insya Allah dengan demikian mereka akan menerima, mereka akan senang dengan nasihat-nasihat itu. Karena itu mungkin mereka itu tidak tahu menahu, sehingga diberitahukan mereka akan menerima, ya tentu caranya dengan baik. Tapi, kalau ada tokoh yang pikirannya liberal, ini yang repot. Sekarang ini pemikiran liberal sudah masuk ke Indonesia dan berkeliaran dimana-mana dengan pengaruhnya yang besar. Liberal itu tidak masuk aliran, sehingga mereka biasa-biasa saja. Berbeda kalau orang itu bertemu dengan aliran ini, atau aliran lain. 

Logo (tolak) jaringan Islam Liberal



Liberal itu tidak masuk aliran dan yang liberal bukan hanya yang masuk JIL. Kadang orang tidak masuk JIL, tetapi pemikirannya lebih liberal. Liberal itu urusan pemikiran, dan orang tidak merasa kalau dirinya sudah liberal. Mudah-mudahan para tokoh diberi taufik dan hidayah olhe Allah sehingga ilmunya tidak kecampuran macam-macam, dan mereka bisa menjadi contoh di masyarakat.

cara, tips berbusana yang benar menurut Islam, fenomena jilbab yang sekarang dilakukan oleh perempuan.

bagaimana meningkatkan kualitas diri menjadi fitri?

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala karunia dan nikmat yang telah dianugerahkan  kepada kita. Begitu banyak karunia Allah tersebut, sehingga kita tak akan mungkin mampu menghitungnya. Allah berfirman “wa in ta’udduu ni, matallahi la tuchshuuhaa”. Dan jika kamu mencoba menghitung-hitung nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu, pasti engkau tidak akan mampu menghitungnya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba Allah yang pandai bersyukur. Dan marilah kita selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas taqwa kita terhadap Allah SWT karena taqwa adalah bekal utama ketika menghadapNya.
 Itulah yang ingin kita capai saat kita menjalankan ibadah puasa ramadhan kita. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah : 183 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa (ramadhan) sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa

Puasa ramadhan telah kita lalui. Ada berbagai perasaan yang mungkin berkecampuk dalam hati kita ketika ramadhan itu meninggalkan kita, ada yang senang, sedih, ada pula yang biasa-biasa saja. Bagaimana denganmu? Apapun kondisi perasaan kita itu, kita menyadari bahwa puasa ramadhan telah memberikan kita  sesuatu yang sangat bermakna. Setidaknya, ramadan telah mengajarkan kita untuk mampu menahan diri. Suatu proses yang luar biasa untuk mencapai keberhasilan hidup, baik duniawi maupun ukhrawi. Kita dilatih  untuk  menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya dibolehkan, seperti makan dan minum, yang dilakukan dengan penuh kesadaran, kejujuran dan tanggung jawab yang diniyatkan untuk memperoleh ridla Allah SWT. implikasi dari proses ini tentu kita didorong untuk mampu menahan diri dari sesuatu yang mubadzir, yang tidak berguna. Lebih-lebih kita dituntut untuk mampu menahan diri dari sesuatu yang dilarang, yaitu perbuatan dosa dan maksiat.
Selain itu, puasa ramadhan juga telah mengajarkan kita untuk mengembangkan kebiasaan yang baik dan mulia. Diantara amalan  yang biasa kita lakukan adalah sholat tarawih dan kegemaran membaca al-Quran. Amalan-amalan ini adalah sesuatu yang sangat didorong dan terus menerus ditingkatkan kualitasnya. Allah SWT berfirman  (Al Isra’ :79).

“Dan pada sebagian malam, maka bertahjudlah kamu sebagai tambahan ibadah bagimu. Semoga yang sedemikian itu Tuhanmu akan mengangkat derajatmu pada kedudukan terpuji”


Rasulullah SAW bersabda:


“bacalah  Al Qur’an itu, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu nanti di hari kiamat akan datang memberikan syafaat bagi para pembacanya
” HR Muslim

Hal lain yang juga biasa kita lakukan di bulan Ramadhan adalah kita mudah sekali bersedekah, atau malah senang bersedekah. Ini sesuatu yang patut kita pertahankan,bahkan kita tingkatkan. Sedekah adalah sesuatu amalan yang sangat didorong dalam islam dan menjadi salah satu sarana untuk mencapai derajat taqwa (ali imran : 134). Sedekah merupakan salah satu instrumen untuk mengatasi kesenjangan sosial dan sarana yang sangat ampuh untuk membangun kepedulian sosial dan rasa kebersamaan. Itu telah dibuktikan oleh lembaga sosial yang mengumpulkan sedekah masyarakat untuk ikut mengatasi persoalan sosial dunia. Bahkan bagi kalangan pebisnispun meyakini bahwa ‘The power of giving’ itu mampu meningkatkan ‘profit dan benefit’ dari usaha mereka. Ungkapan yang sering muncul dari mereka adalah “giving is a beautiful experience”. Tentu, kita sebagai umat Islam harus lebih yakin dengan itu itu semua. Bukankah Allah telah menjanjikan  akan melipatgandakan ganjaran/benefit apabila kita mau bersedekah? Allah SWT telah berfirman dalam surat Al Baqarah: 261

”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, setiap tangkai akan menghasilkan seratus biji benih, Allah melipat gandakan  (balasan) bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) dan Maha Mengetahui”.
Beberapa waktu yang lalu kita telah merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu kita, yaitu hari raya idul fitri. Idul fitri berarti kembali pada fitrah. Fitrah berarti bisa diartikan sebagai kembali suci, suci dari dosa-dosa kepada Allah. Fitrah itu bisa kita capai apabila kita selama ramadhan itu betul-betul menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya berharap ridla Allah SWT, maka akan diampuni oleh  Allah segala dosa yang telah lalu”.
(HR. Ahmad dan Nasai)

Kefitrian kita itu akan menjadi sempurna apabila kita juga berusaha membebaskan diri dari dosa-dosa anak Adam, yaitu suatu perbuatan dosa yang hanya bisa dihapus dengan saling menghalalkan dan saling memaafkan antar sesama kita. Kita memiliki budaya yang anggun dan sangat bagus dalam hal ini, yaitu tradisi saling memberi maaf diantara kita. Tradisi ini tumbuh dari tuntunan Rasulullah SAW.


“Ada tiga jenis orang yang Allah akan memudahkan hisabnya nanti di hari kiamat, dan Allah akan memasukkannya ke dalam surga-Nya dengan Rahmat-Nya. Para sahabat bertanya: siapa mereka itu ya Rasul Allah? Rasulullah menjawab: kamu memberi kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu, kamu menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya kepadamu, dan kamu memaafkan kepada oran yang pernah dhalim kepadamu”.
                                                                                                              
Lantas bagaimana juta memaknai ketika kita memasuki bulan Syawwal ini? Dari pengertian bahasa Syawal berarti ‘irtifa’, yang berarti peningkatan. Peningkatan mengandung maksud agar apa yang telah kita capai selama bulan ramadan itu sebaiknya ditingkatkan terus. Ada sabda Nabi SAW yang perlu kita cermati.

“Barangsiapa yang hari ini lebih burukk dari hari kemarin, maka dia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Dan barangsiapa yang hari ini  lebih baik dari hari kemarin, maka dialah yang beruntung”.

Kata-kata diatas telah disampaikan Nabi Muhammad SAW sekitar 14 abad yang lalu. Kalau kita perhatikan dengan seksama, ternyata kata-kata tersebut sangat berkembang pada saat ini, yaitu konsep ‘continuous quality improvement’, yaitu peningkatan kualitas secara berkelanjutan.

Merujuk kepada sabda Nabi di atas, tentu kita tidak ingin termasuk orang-orang yang merugi, apalagi orang-orang yang terlaknat. Kita semua ingin menjadi orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, bagaimana agar kita bisa masuk ke dalam golongan orang yang beruntung tersebut, yaitu ‘hari ini lebih baik dari hari kemarin’? sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu tahu terlebih manusia yang ‘baik’ itu yang seperti apa. Dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi banyak disebutkan kriteria manusia yang ‘baik’ itu yang seperti apa. Dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi banyak disebutkan kriteria manusia yang baik itu, di antaranya adalah orang yang beriman, beramal shalih, yang suka bersedekah, yang mendirikan sholat,yang membayarkan zakat, yang memenuhi janjinya, yang sabar, yang bertaqwa, dan sebagainya masih banyak lagi.

Kita lihat, semua yang disebutkan tadi adalah kriteria manusia yang baik. Kriteria memiliki makna yang sama dengan ‘standar’ atau ‘benchmark’. Kita kenal istilah ‘benchmarking’, yaitu meniru best practices, mencontoh saja “yang terbaik”. Nah, sebagai manusia, kemana kita akan melakukan benchmarking kepada manusia tersebut? Subhanallah, ternyata dalam diri Rasulullah SAW kita temukan best pactices tersebut. Rasulullah adalah standar manusia. Hal ini diungkapkan oleh Allah dalam surat Al Ahzab: 21

Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharapkan ridla Allah dan hari akhir dan banyak ingat kepada Allah”

Pengakuan ini bukan hanya bersifat apologetik kita, tetapi dunia dan sejarah telah mengakui akan kebenaran bahwa Rasulullah adalah ‘standar manusia’. Salah satu pengakuan itu ditulis oleh Michael Hart dalam bukunya “The 100 a rangking of most influential person in history”.

Sekarang kita lihat definisi mutu atau kualitas yan banyak dipakai diseluruh dunia. Sesuatu itu dikatakan bermutu apabila ‘sesuai dengan standar’. Dengan demikian, manusia yang bermutu adalah manusia yang sesuai dengan standar. Standar manusia adalah Rasulullah SAW. Jadi, manusia yang bermutu adalah manusia yang sesuai dengan ciri-ciri atau kriteria yang ada dalam diri Rasulullah SAW tersebut.

Bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas kita itu, agar kita bisa menjadi semakin sesuai dengan standar manusia?

Untuk bisa meningkatkan diri kita, tentu kita perlu memiliki baseline data diri. Kita perlu mengecek bagaimana kualitas diri kita hari ini dan sejauhmana kita sesuai atau menyimpang dengan standar tersebut tersebut.

Untuk pertanyaan di atas, ada satu cara yan perlu kita lakukan, yaitu evaluasi diri (self evaluation). Evaluasi diri memiliki makna yang sama dengan melakukan audit internal tersebut, sederhananya yaitu melakukan ‘refleksi’. Untuk mudahnya, refleksi itu seperti memandang diri kita di depan cermin. Cermin merefleksikan diri kita apa adanya. Refleksi yang dilakukan secara benar dan jujur pada suatu cermin yang bersih dan utuh, akan menunjukkan kepada kita informasi apa adanya tentang diri kita. Sehingga noda yang menempel pada diri kita akan mudah dikenali, dan diharapkan kita mau berusaha untuk membersihkannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat disibukkan oleh berbagai urusan, mulai dari urusan keluarga, urusan pribadi, urusan sosial, lingkungan disekitar, atau tidak sempat meluangkan waktu untuk melakukan evaluasi diri. Sebenarnya  Allah SWT telah menyediakan sarananya. Hanya saja kita sering mengabaikannya. Allah telah menyediakan shalat lima waktu bagi kita yang bisa kita gunakan untuk refleksi diri tersebut. Bisa kita bayangkan, betapa hebatnya pribadi-pribadi muslim apabila setiap hari melakukan evaluasi secara berkala dan terus menerus memperbaiki dirinya. Dan benar bahwa diantara ciri-ciri muslim yang baik, muslim yang bertaqwa itu, adalah muslim yang reflektif. Sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam surat Ali Imran (135) yang artinya:

“adalah orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji dan dhalim kepadaNya atas dosa-dosa mereka, mereka segera ingat kepada Allah dan mohon ampunan kepadaNya atas dosa-dosa meeka. Dan hanya Allah yang bisa mengampuni dosa-dosa tersebut. Dan mereka berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi, dan mereka mengetahui”.

Bulan Ramadan adalah bulan yang Allah telah menyediakan waktu khusus bagi kita untuk melakukan audit internal secara total. Selama sebulan penuh kita didorong untuk melakukan berbagai amal shalih agar hati kita menjadi bersih, jiwa kita menjadi bening. Dalam bulan ini kita juga didorong untuk banyak melakukan kajian-kajian agama Islam, melakukan tadarrus dan tadabbur al Qur’an. Dengan demikian, kita semakin memahami perintah-perintah dan larangan Allah SWT. kita semakin menyadari akan kriteria atau standar yang harus kita capai, dan kita semakin mengetahui sudah sejauh mana pencapaian kita itu.

Agar pencapaian kita dalam menjalankan ibadah puasa yang lalu menjadi sempurna, maka beberapa hal ini layak kita renungkan untuk kita lakukan:



1.               Marilah kita terus berusaha untuk melatih diri kita menahan dir dari perbuatan-perbuatan yang mubadzir, lebih-lebih perbuatan-perbuatan yang mengandung unsur maksiyat dan dosa.

2.               Kita pertahankan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah kita lakukan di bulan-bulan berikutnya, seperti shalat malam, membaca al Quran dan kegemaran kita bersedekah.

3.               Kita tangkap semangat syawal atau peningkatan ini dengan terus menerus melakukan evaluasi diri atau audit internal karena kita ingin masuk kelompok ‘orang-orang yang beruntung’, yang hari ini lebih baik dari hari ini, dan seterusnya, yang insyaallah dalam perjalanan hidup kita nanti akhiri dengan chusnul khatimah.

Mudah-mudahan dengan demikian, kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur, hamba-hamba Allah yang bisa mencapi taqwa, dan hamba Allah yang msauk golongan orang-orang yang beruntung’.

Idul Fitri Quotes Walpaper
Terima kasih sudah berkunjung di blog saya. Kalau artikelnya membantu tolong like fanspage fb, follow twitter atau subscribe, Anda hanya memerlukan waktu kurang dari 2 menit untuk membuka sebuah artikel website ini, sedangkan saya perlu beberapa jam, bahkan berminggu-minggu untuk memposting satu artikel, kalau artikelnya kurang membantu tolong berikan saran yang baik, dilarang spam dan bertasbih kotor di website ini.

Para ulama berbeda pendapat tentang pembagian macam-macam tanda kiamat. secara umum, mereka membaginya dalam dua macam: kiamat sugra (kiamat kecil) dan kiamat kubra (kiamat besar). Namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan manakah tanda-tanda kiamat kecil dan manakah tanda-tanda kiamat besar?

Diantara mereka ada yang mendefinisikan tanda-tanda kiamat besar adalah semua tanda-tanda yang disebutkan oleh Rasulullah didalam hadits berikut ini:

Pembagian tanda-tanda kiamat berdasarkan kronologi


Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Usaid Al Ghifari. Ia berkata Rasulullah SAW pernah muncul dihadapan kami ketika kami sedang berbincang-bincang.”  Lalu beliau bertanya, “Apakah yang sedang kalian bicarakan?” Mereka menjawab, “Kami sedang membicarakan hari kiamat.”. maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan datang sehingga kalian melihat  sepuluh tanda sebelumnya. Kemudian beliau menyebut asap, Dajjal, binatang (yang keluar dari perut bumi), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam AS, Ya’juj wa Ma’juj, tiga gempa bumi,yaitu di timu, barat dan di jazirah arab, yang terakhir ialah keluanya api dari Yaman yang menggiing manusia ke tempat berkumpulnya mereka. (HR. Muslim, kitabul Fitan wa Asyratis Sa’ah : 18 : 27-28)

Hadits yang semisal juga diriwayatkan kembali oleh Imam Muslim dalam shahihnya :
Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga terjadi sepuluh tanda, yaitu : gempa bumi di timur, di barat dan di jazirah Arab, asap, Dajjal, binatang (yang keluar dari perut bumi), Ya’juj wa Ma’juj, terbitnya matahari  dari barat dan api yang keluar dari lembah ‘Adn yang menggiring manusia. Dan dalam sebuah riwayat disebutjkan : “Dan yang kesepuluh ialah turunnya Isa bin Maryam. (HR. Muslim)
Dengan demikian, mereka hanya memasullan 10 tanda ini saja yang termasuk tanda-tanda kiamat besar, sedang yang lainnya , meskipun peristiwanya terjadi beriringan dengan tanda-tanda tersebut, tetap dimasukkan dalam tanda-tanda kiamat kecil. Di tempat lain ada yang membaginya dalam empat kelompok :
   1.       Tanda-tanda kiamat yang telah muncul pada awal abad-abad pertama Islam.
   2.       Tanda-tanda kiamat yang telah muncul pada abad berikutnya hingga sekarang ini,
   3.       Munculnya Al-Mahdi[1]
   4.       Tanda-tanda kiamat yang muncul setelah kedatangan Al-Mahdi, termasuk semua tanda-tanda kiamat yang tidak disebutkan dalam hadits diatas, namun kejadiannya masuk dalam rangkaian tanda-tanda kiamat besar.

Sebagian lainnya membagi menjadi  3

1.       Tanda-tanda kiamat kecil yang sudah terjadi
2.       Tanda-tanda kiamat kecil yang sudah terjadi dan terus berlangsung
3.       Tanda-tanda kiamat besar yang belum terjadi
Pada prinsipnya perbedaan itu hanya pada istilah dan kebiasaan, atau perbedaan sudut pandang. 


[1] Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim diatas, bahwa Rasulullah tidak memasukkan munculnya Al Mahdi sebagai tanda-tanda kiamat besar. Sehingga ia dimasukkan dalam pemisah antara tanda-tanda kiamat sugra dan kiamat kubra.

6 Hikmah turunnya nabi Isa, bukan nabi lain
Menara putih, Masjid al-umawi, Damaskus, disini nabi Isa turun diantara dua malaikat

Hikmah diturunkannya Nabi Isa di akhir zaman untuk membunuh dajjal

Sebagian ulama mencari hikmah diturunkannya Isa AS pada akhir zaman, bukan nabi yang lain. Menurut mereka terdapat beberapa hikmah, yaitu :
1.    Untuk menolak anggapan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa AS. Lalu Allah menjelaskan kebohongan mereka  beserta pemimpin mereka si Dajjal, sebagaimana dijelaskan dalam pembicaraan terdahulu
2.    Isa AS menjumpai keutamaan umat muhammad صلى الله عليه Ùˆ سلم tercantum dalam Injil seperti firman Allah ta‘ala dalam Al-Qur’an :  “Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat, dan sifat-sifat mereka dalam Injil seperti tanaman yang mengeluarkan, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lantas menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya.” (Al-Fath: 29).

Maka Isa berdo’a kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan mereka. Lalu Allah mengabulkan doanya dan  mengekalkan kehidupannya hingga ia akan turun pada akhir zaman sebagai pembaharu terhadap urusan Islam. Imam Malik Rahimahullah berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa orang-orang Nasrani apabila melihat para sahabat menaklukkan Syam, mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya mereka lebih baik daripada kaum Hawariyyun menurut berita yang sampai kepada kami.” (Tafsir Ibnu Katsir 1:343).
Dr. Muslih Abdul Karim, dalam disertainya tentang Isa Al-Masih menyebutkan beberapa banyak hikmah mengenai turunnya Isa As sebagai berikut :

Hikmah Pertama
Untuk menyanggah pengakuan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuhnya. Allah akan membongkar kebohongan mereka, dan sebaliknya Isa dan orang-orang muslim yang akan menghabisi mereka.
Ketika menafsiri surah an-Nisaa’ ayat 159, “Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya,...” Ibnu Katsir mengomentari pendapat Ibnu Jarir ath-Thabari tentang makna ayat ini bahwa tidak ada seorangpun dari ahli kitab setelah Isa AS turun ke bumi nanti yang tidak beriman kepadanya sebelum Isa AS meninggal. Ibnu Katsir berkomentar, ‘Tidak diragukan lagi bahwa pendapat Ibnu Jahrir itu betul, karena yang dimaksud dari susunan kalimat ayat itu adalah menetapkan kesalahan klaim orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa AS dan menyalibnya, dan pengakuan orang nasrani berseberangan dengan klaim orang-orang Yahudi itu. Allah memberitahukan bahwa masalah sebenarnya tidaklah demikian. Sebaliknya, Allah menyerukan seseorang dengan Isa AS dan orang inilah yang mereka bunuh, sedang mereka tidak memastikan hal itu.”[1]

Di dalam hadits riwayat Abu Umamah al-Bahili di atas terdapat dalil yang menunjukkan sanggahan terhadap orang-orang Yahudi yang mengklaim telah membunuh Isa AS, dan sebaliknya Isa AS dan orang-orang Islamlah yang akan membunuh mereka. Sebagaimana disebutkan, “setelah selesai sholat, Isa AS berkata, ‘Bukalah pintunya.’ Tiba-tiba di belakang pintu itu ada Dajjal bersama tujuh puluh ribu orang Yahudi. Semuanya membawa pedang yang berhias dan berpakaian tebal. Ketika Dajjal melihat Isa AS maka ia cepat-cepat menghilang diantara mereka, bagaikan garam larut dalam air. Ia cepat-cepat lari. Isa berkata, ‘saya punya pukulan yang tidak dapat kamu tandingi.’ Maka, Isa AS menemukan Dajjal di pintu Lud sebelah timur dan membunuhnya. Kemudian Allah mengalahkan orang-orang yahudi. Segala sesuatu yang dijadikan orang Yahudi sebagai tempat persembunyian, dijadikan Allah dapat berbicara; baik batu, pohon, dinding, maupun binatang, kecuali Gharqad (pohon berduri) yang tidak berkata karena pohon itu milik mereka. Semuanya mengatakan, “Hai hamba Allah yang muslim, ini ada orang Yahudi. Datanglah kemari dan bunuhlah dia...”

Di dalam hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Hakim disebutkan, “Kemudian Isa bin Maryam turun pada dini hari dan berkata, Wahai manusia, mengapa kalian tidak keluar mencari pembohong yang jahat itu...” Kalimat seterusnya adalah, “Maka ia mencarinya lalu membunuhnya, sampai pohon dan batu pun memanggil-manggil, ‘Wahai ruh Allah, ini ada orang Yahudi.’ Sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak dibunuh.”[2]

Hikmah kedua
Di antara hikmah turunnya Isa AS ke bumi adalah menghilangkan fitnah yang ditimbulkan Dajjal dengan membunuhnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nawas bin Sam’an dari Nabi Muhammad صلى الله عليه Ùˆ سلم sebagai 
berikut :
Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi ini?” Beliau menjawab, “Bagaikan hujan ditiup angin, lain ia mendatangi orang-orang dan mengajak mereka, dan merekapun beriman dan mengikutinya, ia menyuruh langit menurunkan hujan dan bumi untuk menumbuhkan tetumbuhan, binatang ternak mereka yang keluar pagi hari, pada sorenya pulang dengan punuk yang lebih tinggi, susu yang penuh, perut memanjang. Kemudian ia mendatangi satu kaum dan mengajak mereka, tetapi mereka menolak, ia pun pergi meninggalkan mereka; kaum itupun kemudian tertimpa kekeringan, dan tidak punya harta sedikitpun. Kemudian ia melewati tanah kosong yang gundul lain ia berkata, “Keluarkan kekayaanmu!” Kekayaan bumi pun keluar mengikuti dajjal seperti kelompok lebah mengikuti lebah ratu yang memimpin mereka.

Kemudia Dajjal memanggil seorang pemuda yang penuh energik, lain dipotongnya menjadi dua bagian yang jauh terpisah antara satu dengan lainnya sejauh lemparan panah, lalu dipanggilnya, dan kedua bagian itu datang menyatu dengan wajah cemerlang sambil tertawa. Saat dia seperti itu, Allah mengutus Al-Masih Isa bin Maryam turun di menara putih disebelah timur Damaskus berpakaian dua potong; kedua tangannya berpegang pada sayap dua malaikat. Bila ia menunduk maka kepalanya meneteskan air, dan bila mengangkat kepalanya, maka kepalanya meneteskan butir-butir air yang berkilauan laksana mutiara. Setiap orang kafir yang mencium baunya pasti mati, dan napasnya mencapai batas sejauh mata memandang mata. Ia lalu mencari Dajjal hingga mendapatkannya di Bab Lud dan membunuhnya...”[3]


Hikmah ketiga
Turunnya Isa AS ke bumi karena ajalnya sudah dekat, agar dapat dikubur di bumi karena setiap makhluk yang terbuat dari tanah tidak akan mati kecuali di tanah. Allah berfirman, “Dari tanah itukami ciptakan kalian, dan kepadanyalah kami kembalikan, dan darinyalah Kami keluarkan kalian sekali lagi.” (Thaha : 55)
Ketika menafsiri firman Allah ta’ala, “Dan kepadanyalah kami kembalikan kalian”, Ar-Razi mengatakan yang dimaksud dengan mengembalikan di sini ialah mengembalikan ke kubur sebagai persemayaman setiap orang yang mati, kecuali orang yang diangkat Allah ke langit. Orang yang mempunyai kondisi seperti itu, kemungkinan besar akan dikembalikan lagi ke bumi setelah itu.”


Hikmah keempat
Diantara hikmah turunnya Isa AS untuk membuktikan kebohongan orang-orang Yahudi yang mengklaim telah membunuh Isa AS. Sebaliknya, Isa AS nanti akan membunuh mereka, seperti yang disebut dalam Hadits Abu Hurairah tentang turunnya Isa AS “... Kemudian ia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak nonmuslim”
Ibnu Hajar mengatakan, “Maksudnya meruntuhkan agama Nasrani dengan menghancurkan salib dan menggugurkan pengagungan terhadap Isa AS. Ia juga menyuruh membunuh babi sebagai penegesan tentang haramnya makan daging babi, di samping celaan besar kepada umat Nasrani yang mengaku mereka mengikuti jalan Isa AS, yang kemudian menghalalkan babi dan berlebihan mencintai Isa.”
Isa AS kemudian membawa ahli kitab masuk ke agama Islam. Tidak ada alternatif yang dapat diterima kecuali masuk Islam atau dibunuh. Dengan demikian agama satu-satunya adalah Islam, tidak ada orang kafir Dzimmi yang harus membayar pajak karena mereka sudah tidak ada lagi.



Hikmah kelima 
Setelah tahu sifat Muhammad S.A.W dan umatnya, Isa AS berdoa kepada Allah ta’ala agar dijadikan salah seorang umat Muhammad. Maka ia turun ke bumi di akhir zaman dan memperbaharui perkara Islam. Isa AS akan turun bersamaan waktunya dengan  munculnya Dajjal, lalu Isa AS membunuhnya.


Hikmah keenam
Turunnya Isa AS menunjukkan keistimewaannya berdasarkan sabda  Nabi Muhammad صلى الله عليه Ùˆ سلم, “Saya orang yang paling dekat dengan Isa bin Maryam, karena tidak ada nabi antara aku dan dia. “ Rasulullah saw adalah orang yang mempunyai kekhususan dan paling dekat dengannya, karena Isa AS membawa berita bahwa akan datang seorang utusan Allah setelah dia dan mengajak manusia untuk membenarkannnya dan mengikutinya. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa bin Maryam berkata, ‘Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang  kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “ini adalah sihir yang nyata” (ash-shaff : 6)


[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhlm, jld 1, halaman. 878.
[2]Ahmad, al-Musnad, jld. 3, hlm 367. Al-Hakim, al Mustadrak, Jld, hlm.  540. Al-Haitsami, Majma’ az-Zawa’id, jld.7, hlm. 344
[3]Shahih Muslim  syarh an-Nawawi, kitab “al-Fitan wa Asyrat as-Sa’ah”, bab “Dzikr ad-Dajjal”,jld. 18, hlm. 168. Musnad Ahmad, jld. 4, hlm. 182. Sunan Ibnu Majah,kitab “al-Fitan”, bab “Fitnah ad-Dajjal”, jld.3, hlm. 1356-1359. Sunan Abu Dawud kitab “al-Mala”, bab “Khuruj ad-Dajjal”, jld. 4, hlm. 117.


Terima kasih sudah berkunjung di blog saya. Kalau artikelnya membantu tolong like fanspage fb, follow twitter atau subscribe, Anda hanya memerlukan waktu kurang dari 2 menit untuk membuka sebuah artikel website ini, sedangkan saya perlu beberapa jam, bahkan berminggu-minggu untuk memposting satu artikel, kalau artikelnya kurang membantu tolong berikan saran yang baik, dilarang spam dan bertasbih kotor di website ini.

Manfaat memuliakan tamu

 Fadhilah memuliakan tamu
Agama Islam merupakan agama yang toleran terhadap sesama, bahkan sampai kepada kaum Non-Muslim. Sebagian bentuk toleransi tersebut oleh Islam diartikan dengan cara memuliakan tamu. Rasulullah SAW sendiri memberikan porsi tersendiri pada pembahasan tersebut setelah beriman kepada Allah SWT dan hari akhir. Beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari Muslim). 

Hadis tersebut memberikan penjelasan bahwa tamu juga mempunyai hak, dan hak seorang tamu adalah dengan cara dimuliakan dengan sebaiknya. Dalam penjelasan yang lain tamu diibaratkan sebagai “mayit”. Karena status tamu sebagai mayit, tugas tuan rumah adalah memuliakannya seperti halnya mayit yang harus dimuliakan dan diperlakukan dengan baik.
Memuliakan tamu yang hadir tentu tidak seperti kita memperlakukan hewan. Ada tata cara tersendiri, sehingga Islam memberikan kode etik dalam memuliakan tamu, mulai dari hal menyambut, memberikan hidangan, hingga tamu tersebut pulang dari majlisnya. Rasulullah SAW pernah menyampaikan kepada sahabatnya, Ali, bahwa memuliakan tamu bisa melebur dosa dan memberikan berkah kepada pemilik rumah. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Tamu datang dengan membawa rezeki dan pulang dengan membersihkan dosa.” Suatu yang akan diperoleh oleh tuan rumah bukan hanya itu saja, bahkan sebagai bentuk pemberiannya akan dilipatgandakan oleh Allah.
Dalil tentang manfaat memuliakan tamu
Disebutkan dalam Hadis riwayat Mu’adz bin Jabal, “Tidak, ada satu rumah pun yang akan dikunjungi oleh tamu, kecuali Allah SWT mengutus ke rumah tersebut satu malaikat yang menyerupai burung selama empat puluh hari sebelum tamu itu sampai. Malaikat itu akan menyeru, ‘Wahai pemilik rumah, si Fulan bin Fulan, tamu kalian akan datang pada hari ini dan itu, dan balasan dari Allah SWT adalah ini dan itu.’ Para malaikat yang diwakilkan untuk menjaga rumah itu berkata, ‘Setelah balasan apa lagi yang akan diterima?’ Maka keluarlah malaikat tadi kepada mereka dengan membawa catatan yang tertulis, ‘Allah telah mengampuni penghuni rumah tersebut, meski jumlah mereka seribu’.”
Begitu juga dalam memuliakan tamu sudah menjadi barang lumrah bagi tuan rumah akan mengeluarkan harta untuk menghormati tamunya. Hal itu telah tercantum dalam al-Quran yang artinya, “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka...” (QS. at-Taubah [9]:111).
Jelas sekali, ketika tuan rumah menyuguhkan hidangan pada tamu harta yang dimiliki tuan rumah akan berkurang. Akan tetapi, dalam al-Quran dijelaskan harta yang dikeluarkan tidak akan pernah habis, bahkan bertambah menjadi tujuh kali lipat dan ditambah kelipatannya menjadi seratus.
Kita tiru bagaimana cara Nabi Ibrahim dalam memberikan hidangan untuk memuliakan tamunya.  Beliau memberikan suguhan dengan ‘Ajin khanid (daging anak sapi yang dipanggang). Hidangan yang sangat mewah sekali. Namun, jika tuan rumah tersebut tidak memiliki sesuatu yang mewah, maka cara memuliakan  tamunya dengan kesederhanaan. Hal ini juga dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak bermewah-mewahan dalam menggunakan harta.
 
Akhiran, memuliakan tamu sama seperti  halnya memuliakan Allah. Jika telah memuliakan Allah maka balasannya adalah surga.


Ekspansi dan Penaklukan di Zaman Khalifah Al-Mahdi
Setelah selesainya proses pembai’atan, maka Al-Mahdi bersama kaum muslimin yang begabung bersamanya (dalam sebuah atsar Barzanji disebutkan bahwa jumlahnya 12000 pasukan) segera menyusun kekuatan untuk penaklukan. Berikut merupakan wilayah, negeri dan kaum yang akan ditaklukkan dengan izin Allah:
     1.       Bani Kalb (pendukung Sufyani?), mereka telah mengkhianati Al Mahdi, maka merekapun akan ditaklukkan.

     2.   Jazirah Arab yang meliputi Saudi, Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman dan seluruh kawasan jazirah.
Wilayah-wilayah yang kelak akan dikuasai Imam Mahdi
Negeri-negeri inilah yang akan pertama kali Al-Mahdi taklukkan. Untuk wilayah Jazirah ini, maka kemenangan Al Mahdi diberikan Allah sebelum ia memulai perang. Dihancurkannya pasukan Arab dalam jumlah yang sangat besar di wilayah Al Baida’ merupakan rahmat dan karunia Allah yang diberikan sebelum Al-Mahdi menaklukkan negeri-negeri lainnya. Ini terjadi selain semakin banyaknya pendukung Al-Mahdi, juga negeri-negeri tersebut secara psikologis telah jatuh mentalnya dengan peristiwa besar yang menimpa  kawan-kawan mereka di tanah jazirah. Negeri-negeri diseluruh Jazirah Arab inilah yang kelak akan ditaklukkan Imam Mahdi.







      3.       Penaklukkan Persi/Iran

Agha Bozorg, Persi/Iran
Mereka adalah kaum Syi’ah yang kecewa bahwa ternyata Al-Mahdi yang dijanjikan bukan dari mereka, mereka ingin menumpas Al-Mahdi, namun Imam Mahdi berhasil mengalahkan mereka.
Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kelompok Syi’ah juga memiliki keyakinan akan datangnya Al-Mahdi yang dijanjikan. Mereka meyakini bahwa Al-Mahdi itu adalah salah satu dari 12 imam yang mereka kultuskan. Maka disaat Imam Mahdi yang sesungguhnya tiba, mereka menolak untuk berbai’at kepadanya. Mereka tidak percaya bahwa inilah Al-Mahdi yang mereka lihat.

     4.       Palestina
Di tempat ini Al-Mahdi akan memerangi kaum Yahudi (Israel), menaklukkan Baitul Maqdis dan mengembalikan Al-Aqsa ke tangan umat Islam


     5.       A’Maq dan Dabiq, Syiria


Dabiq adalah sebuah wilayah di pinggiran kota Halab. Tempat ini kelak menjadi medan tempur Al-Malhamah Kubra, perang terdahsyat yang pernah terjadi, perang total antara Al-Mahdi dan Eropa Romawi yang melibatkan 960.000 pasukan. Perang Al-Malhamah Kubra terjadi selama 4 hari (babak) berturut-turut, 1/3 dari kaum muslimin melarikan diri dari pertempuran yang mana dosa mereka tidak akan diampuni oleh Allah. Dan 1/3 lagi mati syahid, dan sisanya yang sepertiga akan mendapatkan kemenangan yang mana mereka tidak akan tersesat selama-lamanya.




    

     6.       Penaklukkan Konstantin atau Konstantinopel atau Istanbul  (Turki Sekuler)


Penaklukkan Konstantinopel oleh Imam Mahdi


      Terletak di Negara Turki, kota yang sebagian berada di lautan dan sebagian berada di daratan. Kota ini akan ditaklukkan Imam Mahdi sebelum Roma.
Penaklukkan yang cukup unik ini dilakukan oleh 70.000 Bani Ishaq, penaklukkan tersebut tidak menggunakan  pedang dan tombak (apalagi senjata-senjata berat), namun hanya menggunakan takbir dan tahlil, maka terbukalah benteng Konstantinopel. Di saat tentara Imam Mahdi mengumpulkan ghanimah, tiba tiba datanglah Dajjal.

    7.       Penaklukkan Cina dan Rusia


Penaklukkan Cina dan Rusia Oleh Imam Mahdi
      
Hal itu sebagaimana tersebut dalam sebuah Hadits, “Tidak akann datang hari kiamat sehingga kalian memerangi suku Khuz dan Karman dari kalangan Ajam (non Arab), yang wajahnya kemerah merahan, pesek hidungnya, sipit matanya dan mukanya seperti perisai yang lengkung.” (HR. Bukhari).
Tidak banyak Hadits –hadits yang shahih yang menjelaskan tentang penaklukkan ini. Namun yang pasti, semua negeri yang menolak keinginan Al-Mahdi pasti akan disapunya.

    8.       Penaklukkan India

Wilayah-wilayah yang kelak akan dikuasai Imam Mahdi


Penaklukkan ini sebagaimana disebutkan dalam Hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Sungguh akan ada pasukan yang akan memerangi India untuk kalian, Allah memberikan kemenangan kepada mereka , sampai mereka dalam keadaan dibelenggu dengan rantai..” (Kitabul Fitan hal 252. Nu’aim bin Hammad, dha’if).
Walaupun secara sanad hadits diatas adalah dha’if, namun ada satu riwayat shahih tentang jihad di wiliyah tersebut akan diselamatkan oleh Allah SWT Hadits tersebut diriwayatkan dari Tsauban budak Rasulullah SAW, dari Nabi bahwasanya beliau bersabda: “Ada dua kelompok dari umatku yang akan diselamatkan oleh Allah SWT dari neraka; kelompok yang memerangi India dan kelompok yang berperang bersama Isa bin Maryam”.

     9.       Ghuthah 
Ghuthah terletak di Damaskus,  wilayah ini merupakan pusat kepemimpinan Al Mahdi dan kaum muslimin. Ia merupakan negeri terbaik saat itu.

     10.   Pintu Lood
Disinilah Dajjal akan terbunuh dengan pedang Nabi Isa as.


Tempat-Tempat Penting Lainnya

1.       Padang Pasir Al-Baida’, antara Makkah dan Madinah
Padang Pasir Al-Baida’
Padang Pasir Al-Baida'
Disinilah pasukan invantri dari Syam yang mengejar Al-Mahdi akan ditenggelamkan dengan kobaran api yang sangat dahsyat. Ada beberapa pendapat secara logika tentang penenggelaman pasukan ini. Secara hukum kausal hal itu terjadi karena eksploitasi minyak besar-besaran di Arab Saudi, sehingga akan terjadi kekosongan atau rongga di dalam tanah. Ditempat ini tentu sangat rawan untuk menopang beban yang sangat berat, ditambah lagi kontur tanahnya yang berbatu dan berpasir. Menurut Isa Dawud sang futurolog, gempa yang akan terjadi akan menelan korban jutaan manusia dan diatas skala richter. Tidak ada yang selamat kecuali seseorang yang akan mengabarkan berita itu kepada dunia. Jika peristiwa di atas dihubungkan dengan kejadian api di Hijjaz, jika benar api itu muncul karena gempa yang memecahkan pipa-pipa minyak dan tabung gas raksaksa, maka penenggelaman ini terlihat logis. Jika dibandingkan kejadian di Hijjaz yang menyebabkan unta-unta di Bushra  terlihat menyala merah. Maka kejadian ini benar-benar sangat mengerikan. Jarak pandang pasir Al-Baida dengan Bushra (Damaskus) lebih dari 1200 km (Setara dengan jarak Singapura-Solo), kita dapat melihat kobaran api di Bushra, sebuah jarak yang sangat jauh bagi seseorang untuk melihat kobaran api setinggi gunung pun.

2.       Ka’bah
Di tempat ini Al-Mahdi akan dikukuhkan oleh penduduk timur (Khurasan), mereka membai’atnya di antara rukun Ka’bah dan maqam Ibrahim. Setelah pembaiatan ini selesai, Al-Mahdi dan pasukannya siap untuk memasuki kancah  pertempuran dahsyat: Penaklukkan dunia secara total!!

3.       Khurasan (Afghanistan)
Tempat ini diperkirakan daerah asal kelompok Ashhabu Rayati Suud yang akan menjadi pendukung Al-Mahdi.

4.       Ashbahan, kampung Yahudiyah

Tempat keluarnya Dajjal untuk terakhir kalinya, ia akan diiringi oleh 70.000 Yahudi yang menggunakan pakaian tanpa jahitan. Asbahan terletak di Khurasan, perbatasan antara Iran dan Rusia. Rasulullah SAW bersabda, “Dajjal akan keluar dari bumi ini di bagian timur yang bernama Khurasan” (HR. Tirmidzi).
Dalam riwayat lain disebutkan, “Dajjal akan keluar dari kampung Yahudiyyah Kota Asbahan bersama 70.000 orang Asbahan”.(HR. Ahmad)

Refano Pradana

{google-plus#https://plus.google.com/u/0/112244076923112035800/} {pinterest#https://id.pinterest.com/apsdbgsmgs/}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget