Articles by "Tabyin &Tandzir"

Beberapa sebab yang menghilangkan berkah Berpuasa



Memang sudah maklum, bahwa puasa bukanlah tradisi atau ambisi agar bertubuh seksi. Akan tetapi karena perintah ilahi dan sunah Nabi. Namun diantara kita masih banyak yang kurang teliti mencermati terhadap perkataan dan perbuatan ditengah menjalankan ibadah puasa, kadang-terkadang kita masih keluar dari mulutnya kalimat kalbu – kata-kata kotor dan perbuatan-perbuatan dosa ditengah menjalankan ibadah puasa. Nah, hal tersebut terjadi tentu karena sudah menjadi tradisi di sebagian daerah yang mana para pemuda dan pemudi jika menjelang adzan Maghrib mereka keluar guna ngabuburit, sambil mengendarai motor kebut-kebutan, urak-urakan, dan di pagi harinya mereka berjalan pagi di taman-taman bukan untuk kesehatan melainkan agar dapat bermain asmara dengan pasangannya padahal pasangannya bukan pasangan suami istri. Mungkin mereka menganggap tidak berpengaruh pahala puasanya, padahal puasa menurut sebagian ulama’ adalah yang paling utamanya adalah ibadah jasmani. Lalu apakah berkata kotor dan perbuatan di atas dapat menghapus pahala puasa.

Nabi bersabda yang artinya:
Banyak dari orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan lapar dan haus.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:
Lima perbuatan yang dapat membatalkan orang yang berpuasa, yaitu; berdusta, ghibah, namimah, melihat dengan syahwat, dan sumpah yang dusta.” (H.R. Dailami).
Ulama mengartikan sabda Nabi SAW di atas adalah sebuah perbuatan yang dapat melebur dan membatalkan pahala puasanya.

Dalam kitab Taqriiratus-Sadidah ulama menyebutkan ada enam perbuatan yang dapat melebur pahalanya orang yang berpuasa.

Pertama; Ghibah, yaitu menceritakan orang lain dengan sesuatu yang tidak disenangi, walaupun hal itu bukan merupakan kedustaan.

Kedua; Namimah (mengadu domba), yaitu memindah perkataan dengan maksud menjatuhkan fitnah, menimbulkan permusuhan, dan sebagainya.

Ketiga; Dusta, yaitu mengabarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta.

Keempat; Melihat pada sesuatu yang diharamkan atau melihat sesuatu yang dihalalkan disertai dengan syahwat.

Kelima; sumpah yang dusta

Keenam; Berkata bohong atau kotor dan melakukan perbuatan dosa. Sesuai sabda Nabi SAW yang artinya:
Barang siapa tidak meninggalkan omongan kotor dan perbuatan dosa, maka Allah tidak lagi membutuhkan dia dalam meninggalkan makanan dan minumannya.” (H.R. Bukhori).
Perkataan “Allah tidak lagi membutuhkan” itu menurut Ibnu Hajar dalam Fat-hul Bari: ini tidak bisa difaham. Bahwa Allah membutuhkan. Sebab Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan apa-apa. Tetapi yang dimaksud dengan kata itu, ialah Allah SWT tidak menghendaki puasanya orang tersebut.
Demikian beberapa penjelasan perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa, karena itulah usahakanlah agar tidak melakukannya dan bisa merubah kebiasaan yang telah menjadi tradisi supaya puasa kita bernilai disisi Allah SWT. Sehingga menjadi investasi di akhirat kelak. Semoga postingan ini bisa menjadi renungan bagi saya secara pribadi dan para pembaca sekalian.

Tandzir: Hukum Pertunangan menurut Syariat Islam


Sudah menjadi hal yang lumrah, bahkan sudah menjadi adat di beberapa tempat, bila seseorang telah melaksanakan prosesi pertunangan, berarti dia sudah berhak berbicara, bertemu dengan pasangannya serta membawanya ke tempat-tempat tertentu dengan harapan agar hubungan antara keduanya semakin kuat, seta rasa sayang dan cinta antara keduanya bisa terjalin dengan baik. Hal semacam ini sebenarnya tidak sesuai dengan tuntunan yang terdapat dalam syariat Islam, karena pertunangan di dalam syariat Islam bukan berarti kedua pihak telah halal melakukan apapun. Ada beberapa hal yang sering disalahpahami dalam status hubungan seseorang dengan lain jenis. Diantaranya adalah sebagai berikut:


Kesalahan-kesalahan dalam pertunangan 

 

1.  Pertunangan bukanlah ikatan


Secara syariat, pertunangan bukan ikatan, apalagi ikatan resmi. Jadi, pertunangan tidak dapat mengikat antara seorang wanita dan seorang pria. Ikatan resmi yang sakral yang mengikat seorang pria dan wanita adalah akad nikah. Terlebih lagi, melalui ikatan dengan akad nikah, hukum hubungan biologis (lain jenis) yang mulanya haram menjadi halal.


2. Pertunangan mendatangkan kemungkaran


Pertunangan juga terdapat kemungkaran, beberapa contoh kemungkaran tersebut yaitu saat proses tukar menukar cincin emas pertunangan antara pihak lelaki dan wanita. Selain hal ini merupakan tasyabbuh (mengikuti gaya hidup) dengan kaum-kaum kafir, menurut hukum Islam cincin emas juga diharamkan untuk dipakai bagi kaum laki-laki.

Kita pasti pernah mendengar berfoto-foto pasca menikah. Atau populer disebut prewedding. Dalam pertunangan, sering kita lihat  pasangan tunangan saling berfoto mesra. Hal tersebut seolah-olah mereka memang telah menjadi sepasang suami istri sehingga mereka boleh dan bebas untuk merangkul, memeluk mesra antara pria dan wanita, yang padahal memang bukan muhramnya.

Pria dan wanita yang sudah bertunangan itu menyangka bahwa mereka diperbolehkan untuk bergaul secara bebas tanpa adanya pengawasan dari mahram mereka lagi, mereka yakin, sah-sah saja bermesraan karena mereka akan hendak menikah. Padahal mereka masih belum melaksanakan akad nikah, belum tentu menikah. Dan itu berarti pergaulan yang mereka lakukan tidak halal.

3. Menimbulkan Fitnah


Terkadang jarak waktu antara pertunangan dengan akad nikah cukup jauh, sehingga bisa menimbulkan berbagai fitnah antara pasangan pria dan wanita yang bertunangan akibat pergaulan mereka yang cenderung bebas dari pengawasan.

4. Kedua pasangan bisa 'main mata'


Dampak yang berbahaya lainnya adalah dari jarak waktu tunangan dan akad nikah yang terlalu jauh tersebut, terkadang sang pria dalam masa waktu itu jatuh cinta kepada wanita lain yang dianggap lebih menarik dari tunangan wanitanya ataupun sebaliknya. Sang wanita jatuh cinta kepada pria lain yang lebih menarik daripada tunangan pria. Akibatnya terjadi perselingkuhan, pertikaian keluarga antar kedua pihak, dan ujungnya adalah pembatalan pernikahan.


Bagaimana Pertunangan yang dibenarkan Islam?


Akan tetapi, jika yang dimaksudkan bertunangan adalah khitbah atau melamar atau meminang, maka hukumnya diperbolehkan, hal ini terdapat dalam hadist "Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam mengutus Hathib bin Abu Balta'ah untuk melamarku untuk beliau, lalu aku berkata : "Sesungguhnya aku memiliki anak perempuan dan aku termasuk seseorang pencemburu, beliau menjawab: "Adapun anak perempuannya , maka kita berdoa kepada Allah agar ia memberikan kekayaan kepadanya dan aku berdoa kepada Allah menghilangkan rasa cemburu." - HR. Muslim.

Kejadian serupa juga terdapat dalam hadist yang diriwayatkan oleh 'Urwah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam melamar Aisyah radhiyallahu 'anha kepada Abu Bakar as-Sidiq, lalu Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata kepada beliau: 

"Sesungguhnya aku hanyalah saudaramu", Nabi Muhammad bersabda: "Kamu adalah saudaraku di dalam Agama Allah dan kitab-Nya dan ia (anak perempuanmu) itu halal bagiku" - HR Bukhari.

Cara-cara Berkhitbah yang benar menurut syariat

Bahkan dalam Berkhitbah pun memiliki tata cara tertentu; diantaranya melalui ta'arruf yang mana calon laki-laki hanya boleh melihat wajahnya saja, dan bila keduanya saling cocok, bisa dilangsungkan dengan pernikahan secara syar'i.

Akan tetapi, bila kita benar-benar menggunakan pertunangan ini diikat dengan nilai dan moral Islam, tentu pertunangan itu akan menjadi berkah dan baik dianjurkan dalam Islam.

Walhasil, Islam tidak pernah mengajarkan pola hubungan tunangan seperti itu. Khitbah dalam Islam senantiasa diikat dengan nilai dan moral Islam. Segala bentuk hubungan antara calon lelaki dengan calon perempuan yang sudah melakukan khitbah adalah sama dengan hubungan laki-laki dan wanita yang tidak terikat khitbah. Hal ini haruslah menjadi perhatian bagi kaum muslimin, agar tidak kehilangan jati diri  dan budaya kita yang telah diatur oleh syari'at Islam.

Itulah pertunangan yang dibenarkan Islam.

Merawat orang yang sakaratul secara syariat Islam


Langkah seperti apakah yang harus kita lakukan ketika teman, kerabat, atau tetangga kita tengah menghadapi sakaratul maut? Mengingat tidak ada siapapun makhluk yang dapat menghentikan kematian atau ajal.

Memang, kematian merupakan sesuatu yang pasti bagi setiap makhluk hidup di hamparan dunia ini, tanpa peduli siapapun itu atau apapun itu. Oleh karena itulah, perlu kiranya menanamkan rasa simpati yang dalam. Terlebih lagi jika yang akan menjumpai kematian itu adalah sahabat, tetangga, bahkan anggota keluarga.

Perlu diketahui ketika ruh seseorang akan dicabut, maka itulah detik-detik menegangkan yang amat menentukan bagi kehidupan kita selanjutnya, serta menjadi awal dari terbukanya pintu kehidupan yang hakiki. Apakah mati berselimutkann iman ataukah telanjang tanpa sedikitpun iman tergores pada diri seseorang?

Dari situ, apabila mulai tampak tanda-tanda seseorang menghadapi sakaratul maut, seperti kedua telapak kakinya mulai melemas dan kedua pelipis matanya muai mencekung, maka kita dianjurkan sebaik mungkin, karena pada saat itulah proses pelepasan ruh akan dimulai. Hal yang perlu diperhatikan antara lain: 

Posisi yang baik

Posisi yang baik pada seseorang saat mulai menghadapi sakaratul maut adalah dengan menidurkan pada sisi lambung bagian kanan dengan menghadapkannya ke arah kiblat, sebagaimana posisi mayit ketika diletakkan ke liang lahat ( kubur ).
Menuntun membaca kalimat tauhid
Dalam menuntun mengucapkan kalimat tauhid (lailaha illalah) tidak disunnahkan untuk membaca lafaz Muhammadur Rasulullah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Iman Muslim:

Artinya, 

“Barang siapa yang diakhir ucapannya adalah kalimat lailaha illalah maka ia masuk surga.”
Hal ini bertujuan agar lebih memudahkan serta mengingatkan seseorang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut dalam mengucapkan kalimat tauhid. Karena pada saat itulah ia benar-benar merasakan sakit.

Dibacakan surah Yasin dan ar-Ra’du

Hikmah dibacakan surat Yasin antara lain adalah agar bisa menyegarkan ingatannya tentang hari kiamat dan hari kebangkitan, sedangkan surat ar-Ra’du karena bisa membantu mempermudah proses pelepasan ruh dari jasadnya, sebagaimana penjelasan dalam kitab Bujairami ‘ala Syarhil-Manhaj


Memberi air




Karena rasa panas yang dirasakan saat proses pelepasan ruh, konon setan datang dengan membawa air dingin dalam gelas sembari berkata, “Katakanlahh tiada Tuhan selain aku, maka aku akan memberimu minum.” Namun apabila mayyit nampaknya benar-benar membutuhkan air maka wajib hukumnya menegukkan air secara pelan-pelan, bisa dengan menggunakan kapas atau lainnya sekiranya air bisa menetes melewati tenggorokkannya. Hal ini termasuk perkara penting yang harus diperhatikan, mengingat proses lepasnya ruh, konon rasa sakitnya hingga membakar jantung. Pada saat inilah setan mempunyai kesempatan emas untuk membuat mangsanya menjadi kufur dengan iming-iming air yang dibawanya.

Kisah Abu Zakariya

Sebagaimana yang terjadi pada diri Abu Zakariya yang ahli zuhud saat menghadapi sakaratul maut. Waktu itu sahabatnya datang untuk menuntun membaca kalimat tauhid, namun Abu Zakariya berpaling. Lantas dibacakan untuk kedua kalinya tetap saja ia berpaling. Sahabatnya tidakk menyerah, ketika ia dituntun lagi yang ketiga kalinya malah ia berkata, “Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu.” Mendengar kalimat itu , sahabatnya terhenyak dan keheranan. Usai beberapa saat itu  Abu Zakariya tersadar, lantas ia berkata pada sahabatnya, “Apakah kalian mengatakan sesuatu padaku?” Sahabatnya menjawab, “Ya, kami menuntumu membaca lailaha illalah namun engkau berpaling hingga tiga kali.” Lantas Abu Zakariya berkata, “Sungguh telah datang iblis padaku dengan membawa air kepadaku sambil berdiri di kananku dan berkata, ‘Apakah kau butuh air’ aku menjawab ‘ya’. Kalau begitu katakanlah Isa itu adalah putra Allah.’ Lantas aku berpaling darinya, setelah itu iblis datang lagi kedua kalinya dan aku tetap berpaling. Pada saat ketiga kali aku membentaknya, “Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu.” Sungguh aku berpaling dari iblis bukan dari kalian wahai sahabatku. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”


apa yang harus kita lakukan ketika seseorang hendak meninggal dunia? Menurut Islam

Rasulullah bersabda, yang artinya, “perangilah nafsu kalian dengan lapar dan dahaga, karena sesungguhnya pada keduanya terdapat pahala seperti pahalanya seseorang yang sedang jihad di jalan Allah. Dan sesungguhnya tidak ada amal yang paling disenangi dari Allah SWT dari pada lapar dan dahaga.

Pada hadis diatas Allah dan Rasul-Nya telah memberitahukan kepada kita betapa pentingnya perut kita selalu dalam keadaan lapar dan dahaga. Selain itu juga pasti kalian pernah mendengar berhentilah makan sebelum kenyang, mengapa?


Manfaat menahan lapar


Lapar memiliki banyak faidah. Di antara faidah lapar yang disebutkan dalam oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin adalah:

Tidak melupakan orang yang dilanda lapar

Hikmah Di Balik menahan lapar
Orang yang selalu lapar tidak akan melupakan orang yang sering dilanda lapar. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang perutnya selalu terisi kenikmatan-kenikmatan dunia maka orang tersebut akan melupakan nasib orang-orang yang dilanda lapar.

Tercegah dari segala maksiat yang ditimbulkan oleh syahwat

Orang yang senantiasa mengosongkan perutnya akan tercegah dari segala maksiat yang timbul dari kuatnya syahwat. Oleh karena itu, dari bahaya kenyang, Nabi Yunus As berrkata, “Aku tidak pernah merasa kenyang kecuali aku melakukan maksiat.”

Maka dari itu, jauhi perut kita dari kekenyangan, sebab Nabi Yunus As sendiri tidak merasa kenyang sebab orang yang kenyang akan mudah melakukan maksiat.

Tidak sering tidur dan selalu bangun


tips agar tidak sering tidur


Orang yang selalu lapar tidak akan banyak tidur dan selalu bangun. Sebaliknya, barang siapa yang banyak makan maka ia banyak tidur. Inilah salah satu alasan mengapa orang sering tidur – karena terlalu sering makan. Ada sebagian guru berpesan pada murid-muridnya ketika menghadiri makanan,
Wahai murid-murid janganlah kalian makan, minum, dan tidur berlebihan, maka kalian akan sangat merugi.” Orang yang banyak tidur, itu berarti ia sangat menyianyiakan usianya, dan mempunyai tabiat yang keras serta hati yang keras pula. Dengan perut yang selalu lapar, maka rasa kantuk tidak mudah menyerang. Sehingga waktu yang kita miliki bisa kita gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT

Mudahnya melaksanakan Ibadah

Tips agar giat rajin Ibadah


Orang yang selalu dalam keadaan lapar maka dia akan mudah melaksanakan ibadah, karena makan bisa mencegah dari berbagai rutinitas ibadah. Lagi pula makan membutuhkan waktu yang banyak, seperti waktu memasaknya atau waktu membelinya, juga setelah makan biasanya masih mencuci tangan dan yang lebih parah lagi membersihkan makanan yang masih melekat di sela gigi sehingga berkuranglah ibadah seseorang pada sang kholiq.

Badan sehat dari penyakit


Orang yang biasa lapar akan sehat dan jauh dari penyakit sehingga mudah melaksanakan rutinitas ibadah setiap hari. Sedangkan penyakit itu akan merepotkan ibadahnya dan mengganggu hati serta mencegah dari dzikir dan menyusahkan kehidupannya.

Dalam Ihya’ Ulumuddin diceritakan bahwasanya Harun ar-Rasyid mengumpulkan empat dokter di Irak, India, Ramawi, dan Negro. Kemudian Harun ar-Rasyid berkata, “ Coba kalian sebutkan obat yang tidak mengandung penyakit!”. Dokter dari India menjawab, “ Obat yang  tidak mengandung penyakit menurutku adalah tumbuh-tumbuhan yang hitam (al-ihlilijul aswad).” Dokter dari Irak menjawab, “Obat yang tidak mengandung penyakit menurutku adalah biji-bijian putih ar-rassyad ( hubburasyad al-abyadh).”

Dokter dari Romawi menuturkan jawaban yang berbeda, “Obat yang tidak mengandung penyakit menurutku adalah air panas.” Namun dokter dari Negro yang lebih mahir dari ketiga dokter tersebut menyalahkan semua jawaban dari ketiga dokter tadi karena semua obat itu mengandung penyakit. Kemudian ketiga dokter yang dianggap salah itu bertanya pada dokter yang dari Negro, “Apa pendapatmu tentang obat yang tidak mengandung penyakit?” Dokter dari Negro itu menjawab, “Obat yang tidak mengandung penyakit menurutku adalah hendaklah tidak makan sehingga kamu membutuhkannya.

Ringannya biaya hidup

Hikmah Di Balik lapar, mari kosongkan perutmu!

Orang yang selalu mengosongkan perutnya dia akan mudah membiayai kehidupan sehari-harinya, jika seseorang membiasakan diri makan sedikkit maka dia akan mudah membiayai kebutuhan sehari-harinya. Karena kebutuhan makannya hanya sedikit. Sedangkan orang yang biasa makan banyak maka dia akan banyak hutangnya.

Syekh Sahal at-Tatsturi berkata, “Orang yang banyak makan itu tercela. Bila orang banyak makan itu ahli ibadah, maka dia akan malas melaksanakan ibadahnya. Bila orang banyak makan tersebut orang kaya, maka dia tidak akan selamat dari bahaya.”

Walhasil, jika selama ini perut kita selalu terisi (kenyang) alangkah baiknya kita kurangi sedikit demi sedikit dengan harapan semoga kita selalu bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT dan mendapatkan ridha-Nya.


Mengapa do'a kita tidak pernah terkabul? Apa Alasannya. dan bagaimana caranya agar doa kita bisa terkabul, dapat dikabulkan oleh Allah SWT?


Kali ini penulis akan menjelaskan tentang beberapa hal-hal yang bisa membuat doa kita tidak diterima disisi Allah SWT , meskipun kita berdoa  pada waktu-waktu yang mulia sekalipun.

Pada dasarnya, Allah SWT telah mengetahui semua kebutuhan dan keinginan kita. Karena Allah SWT adalah zat yang Maha Mengetahui segalanya termasuk isi hati kita, sehingga secara tidak langsung kita tidak perlu lagi meminta atau bahkan menuntut kepada Allah dengan berdoa agar hajat kita terkabulkan.
Namun demikian, setidaknya kita harus berdoa kepada Allah SWT dan meminta kepada-Nya karena ada 2 hikmah yang terkandung di dalamnya :
1) Kita berdoa untuk menampakkan rasa butuh kita kepada Allah SWT. Dengan melakukan doa, kita bisa sadar bahwa kita adalah hamba yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena semua ada dalam kekuasaan-Nya.
2) Kita berdoa karena perintah Allah SWT yang menyuruh hambanya untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT sendiri berjanji akan mengabulkan doa hambanya. Allah SWT berfirman, yang artinya:

 "Berdoalah kalian semua kepadaku niscaya aku akan mengabulkan doa kalian semua." 
(QS Ghafir:60)

Dari ayat tersebut kita bisa menarik pemahaman bahwa dimana ada doa, di situ pasti ada ijabah (dikabulkannya doa). Seakan semua sudah menjadi kelaziman yang tak bisa dipisahkan. Dari hikmah yang kedua ini timbul tanda tanya besar dari kalangan orang awam, mengapa doa kita tidak terkabulkan? Bukankah Allah SWT sendiri menyuruh kita untuk meminta kepada-Nya dan berjanji untuk mengamalkannya? Jawabannya tentu bukan karena Allah SWT tidak mendengar doa kita, tetap hal itu bisa jadi karena dalam diri kita masih terdapat hal-hal yang menyebabkan doa kita tidak terkabul, sebab Allah SWT tidak akan pernah mengingkari janjinya.

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin Imam al-Ghazali menutur sebuah cerita. 

Suatu ketika Syekh Ibrahim bin Adham ditanya oleh salah seorang muridya, "Apa yang sedang terjadi padaku, aku berdoa tapi tidak terkabulkan. Padahal Allah sendiri berfirman, 'Mintalah kalian semua kepadaku, nisacaya aku akan mengabulkannya.'Beliau menjawab, "Karena hatimu mati." Lalu orang itu bertanya, "Apa yang menyebabkan matinya hati?" Lalu Syekh berkata, "Ada delapan perkara yang membuat hatimu mati: Pertama , kamu mengetahui kewajiban yang diperintahkan Allah kepadamu, tapi kamu mengabaikannya. Kedua, lisanmu membaca Qur'an, tetapi kamu tidak mengamalkan isinya. Ketiga, mengaku cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi tidak pernah sempat menjalankan sunahnya. Keempat, kamu takut pada kematian, tetapi kamu tidak mempersiapkan amal untuk kematian. Kelima, Allah berfirman, 'Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian semua, maka jadikanlah mereka sebagai musuh,' tetapi kamu malah menuruti perintahnya dalam kemaksiatan. Keenam, kamu takut pada siksa api neraka, tetapi kamu menjerumuskan dirimu ke dalamnya. Ketujuh, kamu bilang kamu ingin masuk surga, tetapi kamu tidak beramal baik. Kedelapan, kamu sering menyimpan kesalahanmu di depan umum, dan sering mencari kejelekan orang lain. Lalu, bagaimana doamu akan dikabulkan?"

Jadi jelaslah bagi kita bahwa doa yang akan langsung dijabahi oleh Allah SWT hanyalah doa orang tertentu yang menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Sungguhpun demikian, kita tidak boleh berkecil hati apalagi putus asa berdoa, karena Allah SWT pasti mengabulkan doa hamba-Nya. Hanya saja Allah SWT mengabulkan doa kita tidak sesuai dengan waktu yang kita inginkan; atau Allah mengabulkan doa kita dengan memberi hal lain yang tidak kita pinta. Dan kita mesti yakin bahwa hal itu adalah hal terbaik bagi kita.

Toleransi tapi Dibatasi. Yang Benar Bagaimana dan seperti apa?
Sikap Toleransi yang Benar Menurut Islam
Pada hakikatnya Islam tidak membeda-bedakan penghormatan terhadap semua manusia. Apa pun latar belakangnya, Islam memberikan sebuah penghormatan yang intens. Islam datang dengan membawa rahmat, yang meniadakan berbagai konflik. Inilah yang dikatakan sebagai toleransi dalam Islam.
Salah satu bukti yang cukup riil tentang toleransi dalam Islam adalah Piagam Madinah. Sebuah konstitusi negara pertama di dunia, mendahului Magna Charta di Inggris selama enam abad. Dalam Piagam Madinah tercatat beberapa pasal yang sangat jelas menjunjung tinggi nilai toleransi antar sesama umat beragama.
Sebuah cerita, pernah ada jenazah yang lewat di depan Rasulullah, kemudian Rasulullah berdiri memberi  penghormatan. Seseorang sahabat berkata kepadanya, “Sesungguhnya itu jenazah orang Yahudi.” Rasul kemudian menjawab, “Bukanlah dia juga manusia?”
Dari Hadis ini sangat jelas jika Rasulullah SAW tidak membedakan latar belakang manusia, walaupun perbedaan dalam beragama.
Juga kita tidak bisa melupakan sebuah tinta emas yang pernah ditorehkan Islam terhadap peradaban Eropa. Pada saat Islam merasakan titik supremasi di Eropa, Islam tetap harmonis dengan non-Muslim saat itu. Bahkan orang-orang Yahudi yang diusir dari Spanyol, ditampung dan dilindungi di wilayah  Turki Utsmani.
Toleransi tapi Dibatasi. Yang Benar Bagaimana?
Namun yang perlu diingat, rasa toleransi dalam Islam tidaklah mengurangi sikap tegas terhadap pelanggaran. Ketika ada orang yang membangkang dari peraturan yang ditetapkan oleh Islam, mereka harus mendapatkan hukuman. Jika berkaitan dengan pelanggaran, maka tidak ada kata toleransi. Apa pun latar belakangnya bahkan sekalipun orang Islam itu sendiri, jika melanggar peraturan maka harus ada tindakan.
ada jenazah yang lewat didepan Rasulullah, kemudian Rasulullah berdiri memberi penghormatan. Seorang sahabat berkata kepadanya, "sesungguhnya jenazah itu orang Yahudi". Nabi Muhammad menjawab, "Bukankah dia juga manusia?".
Ketika ada perselisihan antara Islam dan Yahudi, jika kesalahan berada pada orang Islam, maka Rasulullah SAW tetap menyalahkan orang Islam dan membenarkan orang Yahudi. Misalnya, dalam masalah pencurian baju besi yang dilakukan oleh Thu’mah bin Ubairiq, orang Islam. Ia menggelapkan bukti-bukti sehingga terkesan yang mencuri adalah orang Yahudi. Namun, setelah dilakukan riset, tampaknya Thu’mah yang menjadi pelakunya. Akhirnya Thu’mah dijatuhkan hukuman potong tangan oleh Rasulullah.
Cerita di atas sangat jelas jika dalam masalah pelanggaran, Rasulullah sangat tegas dalam menyikapinya. Tidak memandang siapa pelakunya dan apa agamanya. Sebuah keadilan yang sangat menguntungkan bagi antar umat beragama.
Juga yang perlu diketahui, istilah toleransi ini berlaku sebatas hubungan lahiriah saja. Tidak sampai memiliki rasa cinta dan sayang atau bahkan masuk ke ranah ideologi. Hal itu sangat dilarang dalam Islam.
Saat ini, Islam sedang dibanjiri oleh paham-paham yang jika tidak hati-hati justru akan merusak agama Islam itu sendiri, seperti ajaran Pluralisme, Sekularisme, Multikulturalisme, dan Relativisme. Ajaran ini sangat kebablasan dalam bertoleransi dengan umat berlainan agama. Mereka menganggap Islam, Non-Islam, semua agama itu sama, bahkan seorang Pluralis berkomentar tentang surat Ali Imron ayat 19 merupakan ayat yang tidak objektif. Ayat tersebut mendeskriminasi agama lainnya yang pada hakikatnya semuanya sama.
Intinya, toleransi dalam Islam sudah jelas. Artinya merupakan sebuah kepastian dari Allah yang harus kita terima. Toleransi dalam Islam bukan untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda itu. Batasan toleransi di sini adalah dalam pengertian lahiriah. Ada batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri  dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.
Itulah makna, pengertian, serta wujud toleransi seperti apa yang betul menurut Islam.
Terima kasih sudah berkunjung di website saya. Kalau artikelnya membantu tolong like dan subscribe (di pojok kanan atas dan samping terdapat beberapa ikon), kalau artikelnya kurang membantu tolong berikan saran yang baik, dilarang spam dan bertasbih kotor di website ini.

Durhaka; Hidup sengsara
Siapapun percaya  bahwa kasih sayang orang tua tidak ada batasannya. Sebuah perjuangan  yang luar biasa mengandung sang anak selama 9 bulan tanpa mengeluh. Tak heran jika seseorang yang ingin meraih rida Allah SWT ia terlebih dahulu harus meraih rida dari orang tuanya.
Beberapa kisah yang terkait dengan kedurhakaan menurut Islam
Diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada malam ketika aku diisra’kan aku melihat beberapa kaum yang bergelantungan pada dahan-dahan dari api. Aku bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencaci ayah dan ibu mereka di dunia.”
Juga diceritakan bahwa sahabat Rasulullah SAW, Alqamah, adalah seseorang yang sangat taat kepada Allah SWT dalam sholat, puasa, dan sedekah. Suatu ketika ia ditimpa penyakit sehingga kondisinya sangat parah. Lalu istrinya menemui Rasulullah untuk mengabarkan tentang keadaan suaminya. Rasulullah menyuruh Ammar dan Shuhaib serta Bilal untuk menuntun Alqamah membaca syahadat, tetapi anehnya lidah Alqamah kelu dan tidak bisa mengucapkannya.
Sadarkah Kita Durhaka pada Orang Tua?
Rasulullah SAW pun heran. Beliau lalu mencari ibunya yang sudah lanjut usia. Setelah ditanya oleh Rasulullah, ibunya menjawab, “Wahai Rasulullah, aku sedang marah kepadanya.” “Mengapa begitu?” lanjut Rasulullah. “Ia lebih mementingkan istirnya daripada aku dan ia durharka kepadaku,” jawab sang ibu. Akhirnya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah menjadi penghalang bagi lisan Alqamah untuk mengucapkan syahadat.” Lalu beliau bersabda kepada ibunya, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Alqamah tidak akan mendapat manfaat dengan shalatnya, puasanya, dan sedekahnya jika kamu masih marah kepadanya.”
Kemudian Nabi menakut-nakuti ibu Alqamah dengan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar anaknya sebagai gambaran siksa atas anaknya di neraka. Melihat hal itu, ibunya pun tak tega, merasa iba dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempersaksikan kepada Allah Ta’ala, para malaikat, dan semuanya, kaum Muslimin yang hadir bahwa aku kini telah rida kepada anakku, Alqamah.”

Bahaya Durhaka kepada Orang Tua

Hikmah dari kisah di atas, sesungguhnya kemarahan seorang ibu Alqamah menghalanginya untuk untuk mengucapkan syahadat dan ketidakridlaan sang ibu membuat  lisannya tidak mampu mengucapkannya. Barang siapa yang durhaka kepada orang tua atau lebih mementingkan sesuatu dibandingkan ibunya, maka ia mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan semua manusia hingga dilempar ke Neraka Jahannam. Allah SWT tidak akan menerima pengganti atau penebus kecuali ia bertaubat kepada Allah dan berbuat baik kepadanya serta memohon keridaannya. Karena keridaan Allah ada pada keridaannya dan murka Allah ada pada murkanya.”
Firman Allah dalam al-Quran yang artinya,

Dan  Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
(QS. al-isra’: 23)
Ayat inilah yang digunakan sebagai dalil al-Quran untuk berbakti kepada orang tua (ibu dan ayah). Walaupun orang tua beragama non-Muslim, tetap saja anak harus taat atas apa yang diperintahkannya selagi bukan dalam ranah kemaksiatan.

Sesungguhnya kemarahan seorang ibu dapat menghalangi anaknya untuk mengucapkan syahadat dan ketidakridlaan sang ibu membuat lisan tidak mampu mengucapkannya

Dalam ayat di atas terdapat kalimat “Jangan mengatakan Ah”, artinya, janganlah berkata-kata kasar kepada keduanya sampai mereka berumur lanjut pun. Di samping itu, wajib bagi seseorang anak untuk berbakti (memberikan pengabdian) kepada mereka sebagaimana mereka berdua telah berbaktikepada anaknya. Bahkan, bentuk bakti orang tua kepada anak justru lebih tinggi dari pada kebaktian anak kepada orang tuanya. Karena sampai kapan pun jasa orang tua tidak akan pernah bisa dibalas.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah SWT bersabda, “Maukah aku beritahu kalian tentang dosa besar yang paling besar? Yakni menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.”


Durhaka kepada orang tua merupakan dosa yang paling besar. Berada di urutan kedua setelah dosa syirik kepada Allah, pantaslah jika orang yang durhaka kepada orang tua akan mengalami kesengsaraan dalam menjalani roda kehidupan.


Sejatinya segala perbuatan dosa dilakukan  oleh manusia akan mendapatkan balasan siksa di hari  kiamat setelah mereka tidak bernyawa. Beda halnya dengan perbuatan dosa yang berupa durhaka kepada orang tua, karena Allah akan menyegerakan siksanya di dunia sebelum dia meninggal. Yakni hukumannya akan diberikan di dunia sebelum  hari kiamat, membuat si pelaku yang durhaka kepada orang tua, akan menjalani hidup sengsara.

Gunung Meletus / Volcano
Musibah sudah begitu akrab dengan Indonesia. Mulai banjir bandang di Manado, letusan Gunung Kelud yang hampir menutupi seluruh tanah jawa dengan abu. Haruskah kita larut dalam kesedihan yang tetap tidak akan mengembalikan apa yang hilang akibat musibah itu, atau justru kita menerimanya dengan pasrah dan ikhlas?



Bijak Menyikapi Musibah menurut versi Islam

Belum lama ini Indonesia diterjang banjir bandang di wilayah Manado. Tak lama berselang, giliran Gunung Sinabung menampakkan keperkasaannya. Beberapa bulan lalu di daerah Kediri, orang-orang dilanda ketakutan yang luar biasa. Gunung Kelud sudah tak mampu lagi menahan gejolak batu da abu yang memberontak ingin keluar.  Larva panas, batu, pasir, dan abu berterbangan menutup pandangan mata. Bukan hanya wilayah Kediri saja yang merasakan dampak dari letusan gunung Kelud tersebut, tetapi, bisa dikatakan seluruh tanah Jawa turut merasakan, bahkan abunya sampai ke ujung Jawa Barat seperti Bandung dan Bogor. Namun anehnya, sebagian wilayah Malang, Pasuruan ke Timur yang jaraknya lebih dekat malah tidak terkena hujan abu.
Inilah janji Allah SWT kepada umat manusia. Bahwa Allah SWT akan menguji keimanan hamba-Nya, telah termaktub dalam al-Qur’an. Allah  SWT berfirman:




“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang –orang yang sabar.” (QS. al-Baqoroh [2]: 155)

Mengapa dan Apa Tujuan serta Alasan Allah mendatangkan Musibah kepada hamba-Nya

Dalam redaksi ayat ini jelas sekali bahwa Allah pasti akan menguji setiap hambanya dengan berbagai cobaan; rasa takut, rasa lapar, kehilangan sanak kerabat karena datang datangnya kematian. Namun, jika seseorang mampu bersabar dengan ditimpa berbagai musibah tersebut maka kabar gembiralah yang akan ia dapatkan berupa pahala, dan inilah kepribadian yang dimiliki seorang mukmin. Inilah seorang mukmin yang dibanggakan oleh Rasulullah SWT, sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, 
“ Menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Hal itu hanya dimiliki oleh seorang mukmin. Bila ia mendapat kemudahan ia bersukur, maka itu menjadi lebih baik baginya. Bila mendapat kesengsaraan ia bersabar, maka itu menjadi lebih baik baginya.”

Dalam Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Rasulullah SWT bersabda: 
“ Jika Allah mencintai seseorang maka Allah SWT akan mengujinya, agar ia mendengar keluh kesah orang itu.”
Lihatlah betapa banyak pujian yang diberikan oleh syariat terhadap orang-orang yang mampu bersabar atas musibah yang menimpa hidupnya, karena tidak selamanya musibah itu merupakan sesuatu yang menyedihkan. Ketika kita bisa mengambil sisi positif dari terjadinya musibah itu, lantas kita bersabar, itu merupakan bagi kita meraih pahala lebih yang tidak bisa didapat oleh orang lain.
Lihat saja pada Hadis kedua, ketika Allah SWT mencintai seseorang maka  Allah akan menguji  orang itu. Bagaimana cara Allah SWT menguji, salah satunya adalah dengan menampakkan bencana kepadanya, sebagaimana yang diterangkan ayat diatas. Didalam konteks ini, tentu saja bencana yang menimpa seseorang bukan merupakan sebuah musibah, tapi justru merupakan nikmat.
Hal itulah yang sering ditampakkan oleh para kekasih Allah. Keberadaan musibah tidak membuatnya bersedih, tapi justru menampakkan kebahagiaan dan rasa syukur, karena secara tidak langsung Allah SWT telah memberikan sinyal cinta-Nya kepada orang tersebut, dan Rasulullah SAW bersabda melalui riwayat Ibnu Mas’ud,
“ Jika Allah mencintai seseorang maka Allah akan membuat orang itu mencintai-Nya, dan seseorang tidak akan bisa mencintai Allah SWT hingga Allah yang terlebih dahulu mencintai orang itu.”  
      
Jadi, dari artikel di atas, apa yang harus kita lakukan ketika terjadi musibah?

Meluruskan ajakan "Kembali pada al-Quran dan as-Sunnah"
"Kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah". Sebuah ungkapan yang kadang kita dengar di berbagai kalangan. Memang al-Quran dan as-Sunnah merupakan dua sumber primer ajaran Islam yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, sehingga siapapun yang berpedoman pada al-Quran dan as-Sunnah, maka ia tidak akan tersesat dan telah berpegang pada ajaran murni Islam.





Sampai disini, mungkin muncul tanda tanya, “bagaimana mungkin kelompok yang menyerukan ‘kebenaran yang ideal’ berdasar al-Quran  dan Sunnah masih dianggap keliru oleh para ulama pada zamannya? Mengapa pula paham sebuah kelompok di zaman sekarang yang semua ajarannya merujuk kepada al-Quran dan Sunnah juga dianggap menyimpang?
Mari kita perhatikan permasalahan ini secara komplit, agar terlihat “akar masalah” yang ada pada sikap yang terlihat sangat bagus dan ideal ini:
Pertama, prinsip “kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah” adalah benar secara teoritis. Namun, belum tentu benar secara praktis, mengingat tingkat setiap orang dalam memahami al-Quran dan Sunnah berbeda. Pastinya, pemahaman terhadap al-Quran atau Sunah bagi seorang alim, pakar bahasa Arab, ahli segala ilmu tafsir dan perangkat itjihad, akan jauh berbeda dengan kesimpulan dengan pemahaman orang awam yang mengandalkan buku-buku “terjemah” al-Quran atau Sunnah.
Itulah kenapa pada zaman ini banyak bermunculan aliran menyimpang.  Jawabannya, karena masing-masing mereka berusaha kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Masing-masing berupaya mengkaji kapasitasnya sendiri, padahal belum punya kemampuan di bidang ini. Sebut saja Yusman Roy (mantan petinju yang merintis sholat dengan bacaan diterjemah), Ahmad Mushadeq (mantan pengurus PBSI yang mengaku Nabi), dan kesalahpahaman sebagian kelompok dalam memahami bid’ah, syirik, ziarah kubur dls.
Kedua, al-Quran dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh ulama terdahulu yang memiliki kemampuan yang sangat mumpuni untuk melakukan hal itu. Sebut saja: Ulama madzhab, ulama tafsir, ulama hadis, fuqaha (ulama fiqih), pakar akidah Ahlussunnah Waljamaah, dan ulama Tasawuf. Hasilnya telah ditulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Quran dan as-Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud cinta mereka terhadap umat yang hidup di kemudian hari.
Boleh dibilang, kemampuan yang dimiliki ulama tersebut tak dapat dicapai oleh orang setelahnya, terlebih di zaman ini, menimbang masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah SAW dan sahabatnya. Belum lagi keunggunlan hafalan, penguasaan bidang ilmu, lingkungan yang shaleh, wara’ (kehati-hatian), keikhlasan, keberkahan, dll. adalah sebuah keteledoran besar upaya orang sekarang dalam memahami Islam dengan cara “kembali al-Quran dan Sunnah” dilakukan tanpa merujuk pada pemahaman para ulama tersebut.
Ketiga, para ulama telah menghidangkan penjelasan kandungan al-Quran dan as-Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai “hasil jadi”. Para ulama itu telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian dan penelitian yang rumit.
Pendek kata, para ulama seakan-akan tlah menghindangkan “makanan siap saji” yang siap disantap oleh umat tanpa repot meracik atau memasaknya terlebih dahulu, sebab para ulama tahu kemampuan meracik dan memasak tidak dimiliki semua orang. Di saat ada kelompok mengajak umat untuk tidak menikmati hidangan para ulama, dan mengalihkan mereka untuk langsung merujuk al-Quran dan Sunnah, berarti sama saja menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya, lalu menyuruhnya untuk menanam padi. Dari uraian di atas, nyatalah bahwa ajakan “kembali kepada al-Quran dan Sunnah” itu belum tentu dianggap benar. Disamping itu para ulama telah menulis berjilid-jilid kitab itu, mereka tidak mengutarakan pendapat berdasarkan hawa nafsu. Amat ironis bila karya-karya ulama yang jelas-jelas lebih mengerti tentang al-Quran dan Sunnah itu dituduh sebagai kumpulan pendapat manusia.

Refano Pradana

{google-plus#https://plus.google.com/u/0/112244076923112035800/} {pinterest#https://id.pinterest.com/apsdbgsmgs/}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget