Articles by "True Story"



Tips to Build A Better Relationship With Your Lover


Sebelumnya selamat bagi yang akan atau hendak menikah, sekarang bukan sahabat saja yang akan menghadapi suka dan duka sendirian, melainkan akan ada  kekasih di sisi sahabat yang setia menemani. Sebuah ikatan kuat dari ketetapan  hati yang sama dengan tujuan cinta - pernikahan. Berbeda dengan pacaran maupun tunangan, pernikahan adalah ikatan sesungguhnya, yaitu cinta sepanjang hidupmu.

(Hidup memang lebih baik bila dilakukan bersama) Apa yang bisa kamu lakukan agar kamu dapat membentuk hubungan kuat dengan pasanganmu? Yang mampu bertahan melawan waktu-tidak hanya sekedar hidup bersama, melainkan menjadi teman terbaik, cinta terbaik, dan orang tua terbaik?

Dampak Televisi terhadap Anak mampu membentuk karakteristik Anak.

Dampak dan Bahaya Media Massa



Dahulu, sering kita lihat anak-anak kecil bermain, mulai dari kelereng sampai bal-balan hingga sore hari. Ketika menjelang sore, anak-anak kecil pulang ke rumah bergegas untuk pergi ke musholla atau masjid, serta belajar mengaji. Belajar tatakrama dan belajar menjadi anak yang membanggakan orantuanya. Sekarang, sudah jarang kita dapati anak-anak seperti itu. Mereka mulai enggan untuk belajar dan mengaji di mushalla di kampungnya.

Beberapa tahun lalu, Indonesia tidak terlalu kenal dengan yang namanya ‘televisi’. Entah karena mereka tidak memiliki uang, tidak ada listrik atau memang menyadari dampak yang dibawanya.

Di era keterbukaan ruang informasi seperti sekarang ini, televisi sudah menjamur di rumah-rumah penduduk. Seolah televisi bukanlah barang mahal lagi, terkadang, bisa kita jumpai di satu rumah terdapat dua atau tiga televisi. Televisi kini bermacam fungsinya, baik untuk kebutuhan informasi, even berkumpul dengan keluarga atau sekedar pelepas penat.

Namun demikian, tidak semua kalangan dapat memilah dan memilih informasi dari televisi. Sikap acuh tak acuh pada tayangan televisi inilah yang dikhawatirkan tak peduli pada dampak buruk terkait televisi. Hal ini berpotensi mengurangi kualitas sumber daya manusia pada masa yang akan datang, sebab kebanyakan dari mereka masih didominasi oleh anak-anak muda yang belia.

Memang benar jika televisi hanyalah sebuah media untuk menuai informasi atau tontonan yang menghibur. Akan tetapi, jiwa labil anak-anak muda akan cenderung menganggapnya sebagai tuntunan untuk kemudian melakukannya di dunia nyata. Ditambah, tontonan zaman sekarang orientasnya hiburan, bukan lagi informasi, apalagi pendidikan. Otomatis, tontonan yang segmentasinya anak muda akan menggambaran anak dengan segala huru-haranya.

Termasuk produk andalan televisi adalah sinema elektronik. Acara yang sering disingkat sinetron ini adalah film yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik seperti televisi. Biasanya acara ini ditayangkan setiap hari. Pangsa pasarnya meliputi anggota keluarga terutama ibu-ibu dan remaja. Awal mula acara ini hanya menayangkan hiburan. Namun, lambat laun persaingan antar stasiun televisi mulai membuak acara ini mulai kebablasan.

Inilah beberapa diantaranya efek negatif dari persaingan antar stasiun televisi:



Waktu Penayangan tidak sesuai


Waktu Penayangan yang diawali dari jam enam sampai sepuluh malam adalah waktu terbaik untuk belajar dan membaca. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan nasihat orang tuanya justru si kecil gunakan untuk menonton televisi. Maka jangan heran jika anak zaman sekarang cenderung mokong kalau dinasehati orang tua, karena kini nasehat orang tua telah tergantikan dengan nasihat sinetron.

Sudah mengesampingkan krama


Tontonan yang disuguhkan, terutama sinetron malam, sangat jauh dari positif dan keluhuran tata krama, cenderung hedonisme dan kebarat-baratan. Peran utamanya adalah orang cantik atau tampan, kebiasaannya pergi ke klub malam, melawan orang tua, pacaran, dan lain semacamnya. Selanjutnya, penonton dibawa untuk menyaksikan kedengkian dan segala bentuk kejahatan tokoh antagonisnya.

Anak Kita adalah Peniru Terbaik


Anak-anak muda yang belum mempunyai jati diri akan cenderung menirukan segala hal yang ia tonton, baik itu protagonis (tokoh utama) mauoun antagonis (musuh tokoh utama). Secara tidak sadar karakter anak-anak muda akan meniru idolanya: kalau perlu menghajar orang pun mereka akan mengikutinya.

Jika demikian, otomatis anak muda yang minus ilmu, minus tatakrama, minus teladan serta minus nasihat dari ortu akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan bangsa. Sebab, satu-satunya masa depan yang bisa diharapkan adalah anak muda.

Sudah saatnya kita menyadari dampak negatif televisi, kemudian menjauhkan anak-anak dari televisi atau paling tidak mengurangi serta mengawasi tontonan mereka. Minimal setelah Maghrib, kemajuan bangsa ini tergantung anak mudanya, tergantung pendidikan orangtuanya.



Mungkin kita pernah dengar bahwa Indonesia kita ini memang sering sekali berlangganan juara olimpiade internasional, selain karena usaha keras si siswa sendiri juga karena faktor Z yang berada di jantung kebijakan pendidikan Indonesia sendiri. Kita boleh bangga dengan kinerja siswa yang sudah membawa nama baik Indonesia di mata dunia.

Beberapa alasan salah satunya adalah karena di Indonesia, materi pendidikannya sangat cepat, sehingga sangat sulit untuk dicerna oleh siswa biasa. Ditambah lagi materinya yang tergesa-gesa dan tidak ‘seumuran’.

Sebuah berkah untuk tipe murid yang daya serap belajarnya sangat tinggi, mereka masih sanggup dan senang dengan gaya ngebut-ngebut materi yang diajarkan. Oh, kasihan untuk murid kebalikannya, mereka hanya melongo dan makin cetek memahami apa yang diajarkan.

Dengan perbedaan kecepatan pemahaman tiap siswa, terjadilah kesenjangan yang sangat tinggi, dimana siswa pintar terlihat pintar dan diperhatikan. Siswa dengan daya serap rendah kelihatan bodoh, dan siswa tengah-tengah kelihatan... bodoh.

Banyak sekolah, lebih spesifik pada guru, terlalu berfokus pada siswa-siswa pintar tersebut, dan menghiraukan bakat siswa menengah bawah. Nah, tidak ada siswa bodoh, hanya ada siswa kurang motivasi dan kurang diperhatikan dan terpaksakan. Mereka madesur, dan mewariskan generasi muda mendatang yang dinamakan pengangguran bergelar sarjana.

Bagaimana mata pelajaran yang diberikan?


Terlampau buruk. Sekarang tiap pelajaran sudah disisipi materi agamis, pemahaman anti-korupsi, terlihat dipaksakan bukan. Saking dipaksakannya bahkan tidak terlihat, mananya agamisnya, mananya anti korupsinya.

Justru PKN, Agama, BK, terlalu banyak teorinya, sampai-sampai tidak terlihat fungsi penyampaian moralnya. Ujung-ujungnya cuman tambahan nilai raport.

Nah, kalau saya timbang-timbang, persentase besar materi yang diajarkan adalah 80% memory dan numeracy 19% praktek dan seni 1% moral.

Gak percaya.

Sejak kelas satu SD saja kita diajarkan tambah-tambahan dan pengurangan. Awal yang terlalu cepat, malahan. Di luar negeri, seperti Jerman dan Finlandia, materi penambahan dan pengurangan baru ditujukan setelah kelas 3 SD. Nah, kelas satu sampai kelas dua, anak-anak dilatih berkomunikasi, bercerita, dan mengembangkan kreatifitas dan kebersamaan. Kegiatan diisi dengan bermain, dan tentunya guru SDnya bahkan jauuuh lebih hebat dari dosen Indonesia.

Disana guru SD harus S2 dan tentunya dipilih dari lulusan yang terbaik. Nah, dosen negeri kita, cuman bisa ngelempar skripsi mahasiswanya ke tong sampah.

Itulah mengapa Indonesia langganan juara olimpiade, karena materi yang disampaikan memang terlalu cepat dan dini.

Tetapi efek negatifnya jauh lebih merugikan.

Salahnya sendiri tidak belajar


Anda terlalu banyak menuntut, ya. Bayangkan saja untuk SMA, ada 17 mata pelajaran dan tiap semester terdiri dari 6 bab. Kamu mau baca 102 bab total, hah. Bisa. Tapi kompensasinya, kamu harus lupakan waktu bersosialmu. Les kesana-kesini, pulang malam hari, buka buku lagi. Cuman gara-gara takut nilai ulangannya jelek, ya kalau soal-soal ulangannya ada dibukumu, kalau tidak ada? Percuma baca buku satu lusin, kan?

Anda tidak paham, ya. Coba tanya ke anak SD kelas Satu, tahu gak, dik, apa itu belajar?

“Waduh, kak, saya tidak tahu, di sekolah, sama guru cuman diajar tambah-tambahan sama kurang-kurangan.”

Karena kurangnya pemahaman moral di Indonesia, dan cepatnya materi yang diajarkan, selain timbul banyaknya generasi gagal yang jadi beban (pengangguran), juga muncul: generasi spesial mental bejat atau tidak loyal. 

Tidak Loyal disini sering terjadi pada siswa-siswa genius, mereka benar-benar diperhatikan negara, tentu saja setelah sukses, mereka tidak akan pernah balas budi pada negeri mereka, wong yang dikejar adalah rasa sukses, bukan rasa mengabdi. 

Bejat disini bisa dikatakan koruptor-koruptor kita ini, para pejabat tinggi, dan pemimpin negeri ini. Mereka memang cerdas-cerdas, tetapi di sekolah, mereka cuman diisi pemahaman teori, tanpa moral. Jadi, kalau Anda lihat koruptor ketangkep di televisi, jangan salahkan si dia mengapa korupsi, salahkan apa yang menjadikan mereka seperti itu..

Jokowi, Basuki 'Ahok', Prabowo Subianto
Banyak orang berkata Indonesia masih belum merdeka, andaikata Bung Karno memang benar, "Apa yang kami (Bung Tomo DKK) hadapi adalah melawan penjajah, namun apa yang kalian hadapi (Generasi kita) adalah melawan negara sendiri."


Mungkin yang digarisbawahi merupakan salah satu "kata bijak yang usang" di lihat dari era yang kita pijak sekarang. Aku memang tidak begitu pandai dalam merangkai kata, tapi bagaimanakah kalau seperti ini.

Apa yang sedang kita hadapi adalah apa yang ditinggalkan penjajah.

Gedung? Jembatan? Jalan? Apa yang ditinggalkan?

Terus terang Bangunan yang ditinggalkan penjajah adalah positifnya, bahkan lebih baik. Yang saya maksud adalah sifat yang ditinggalkan penjajah. Apa yang telah merenggut kemerdekaan kita, nafsu mereka yang seperti binatang buas, mana mungkin kita mau (betah) bersama seseorang yang menyergap kita dengan alasan keuntungan diri belaka?

Sejak SD kita sudah tahu dan mengenal devide et impera, yaitu sebuah politik memecah belah kedua kubu. Adu domba kerennya, baik memanasi raja pribumi dengan kabar bahwa 'tetangga sebelah' sedang merencanakan kudeta, ataupun menawarkan kita dengan wanita dan harta: Akhirnya kita dapat melihat pertempuran sia-sia antara kerajaan di nusantara, bagai bertarung dengan diri sendiri. Tentu yang hancur diri kita sendiri.

Nah, ternyata-ternyata, kelicikan penjajah ini sudah mendarah daging di kita-kita, bagaimana mungkin kita yang dulunya sebagai korban bisa ikut-ikutan ya?

 Misalnya saja dalam berpendapat, ataupun dalam dunia politik, praktek devide et impera (politik adu domba) biasa digunakan untuk menyudutkan suatu kubu maupun menarik simpati publik. Misalnya saja kritik terhadap Presiden, maupun gubernur sekalipun.

[next]


Kita lihat saja, banyak sekali kritik tersebut mulai ‘kebablasan’ sehingga mengandung unsur penghinaan yang paling dalam. Sampai-sampai membawa-bawa nama ras, agama, kelompok. Membuat kita saling membentuk golongannya sendiri dan anti dengan golongan lain.

Awalnya disebarkan oleh ‘para elit’ kepada pendukungnya, ataupun melalui awak media, si ‘para elit’ ini akan mencari celah sesuatu yang bisa dihina dari si A, menyebarkannya, kemudian warga yang tidak mencari fakta sebenarnya, namun langsung terbuai dan mengiyakan, sekali lagi tanpa mencari fakta atau usaha, dsb.

Apa yang tertanam di otak mereka akan disebarkan ke siapapun yang netral ataupun menghina setiap kabar tentang si A, tak peduli itu Gubernur, Presiden, asalkan si ‘golongan elit’ berkata: dia hina! Maka para pengikutnya akan mengiyakan.

Padahal, belum tentu 'para elit' ini bisa lebih baik dari si A, tetapi tak sadarkah bahwa mari, para elit dan si A, untuk saling membantu bersama, bukannya saling tusuk menusuk. Aneh sekali kita mengadu domba diri kita sendiri.

Padahal mereka yang berada di kursi cuman duduk-duduk manis saja, melihat bahwa ah, saya punya pengikut yang setia.


10 Ciri Khas Media Massa di Indonesia, Jangan telan informasi mentah-mentah!

Ini “Unik”-nya media massa kita yang memang beda sehingga kamu jangan terlalu percaya.


Sekarang kita sudah memasuki era globalisasi, dimana jarak sudah merupakan hal yang tidak penting lagi, terutama dalam menggapai berbagai informasi, sudah banyak sekali media penyalur informasi tersebut, yaitu media massa. Mulai dari media massa yang bondo sampai media “alternatif”. Media massa sendiri yaitu penyalur informasi umum yang disampaikan kepada publik yang terjadi pada waktu ‘barusan saja’. Tapi, benarkah definisi diatas sesuai dengan sifat media massa kita ... yang sekarang. Apa sudah tepat dengan ‘kode etik’? Saya melakukan riset dari kaskus dan beberapa situs opini dan dari Situs Media massa.

 Nah Sebelum itu mari lihat satu sampel dibawah:

1. Pembodohan masyarakat dengan “Mole People"


“Mole People" Hoax
Ini merupakan kabar berita yang paling heboh di Indonesia, bagaimana tidak berita ini 100% hoax, dan gambarnya diambil dari cuplikan film mole people tahun 1957. Pertama tama dicopas oleh tribunnews, kemudian di copas mentah-mentah lagi oleh media massa yang lainnya. Ditambah lagi di media islam ditambahi pertanyaan absurb apa itu yang dinamakan Ya’Juj dan Ma’juj, ckckckc. 

Media Massa mulai melenceng

Bodohnya lagi banyak yang percaya dan berucap subhanallah >> berarti ilmumu kurang. Berita ini diambil dari BurlingTownNews yang merupakan media berita parodi. Ya, ini merupakan hoax terbesar dari media massa metropolitan tahun ini.

2. BIN


Judul ini tidak jelas sekali, isinya apalagi, diambil dari wawancara. Tapi saya baca wawancaranya sangat gak nyambung dengan judulnya. Isi wawancaranya adalah kinerja BIN yang kurang berprestasi. Namun tahu tidak isi berita ini juga sekaligus menyeret terbongkarnya aksi spionase amerika dan Australia dengan kinerja BIN.

Kenapa media massa kita justru tidak mengungkap betapa bocornya penyadapan AS dan Autralia melalui informasi Edward Snowedeen, malah menghina BIN karena tidak mengusut hal ini?
Padahal tugas BIN ialah pelaksana penyandian -Decoding dan encoding- agar informasi yang dikirimkan tidak terbaca pihak lain.

Okeh, inilah ciri unik media massa kita


1. Judul yang tidak sepenuhnya benar

 Awak Media berusaha sebaik mungkin membuat pembaca penasaran, terutama menentukan keyword pada judul yang semenarik mungkin, walaupun judul itu tidak sepenuhnya benar, Misal 'orang-orang ini wafat saat menjalankan tugas ketika pengawalan presiden!' Setelah saya buka, ternyata pengawalan presiden: ada di Jakarta, Orang yang meninggal: Ada di Kalimantan, Papua, Aceh. Di kampung gue gak diliput tuh.

2. Terkadang dibuat lebay



Pernahkah kalian membaca web media massa yang mempunyai judul “geger... “, “netizen dibuat geger”, “gempar”, “heboh”. Dan ternyatah isinya... cuman hembusan angin belaka. Terakhir saya lihat, ini guys , di saat sedang gempar-gemparnya kasus pembunuhan tak bermoral terhadap Angelina, muncul berita baru kembaran Angelina dengan tambahan “netizen dibuat shock”. Sekarang di Tv adatuh acara As*l – aseli atau palesu, di situ kamu bisa nemuin bahkan 4 orang yang mirip dengan wajah artis, namun gak diliput di media massa. Stop! Jangan gunakan kata “geger”, “shock”, “heboh”, demi mendulang klik. Kecuali kalau ada berita si buta melihat si bisu berbicara dengan si tuli dan melihat si lumpuh berjalan.

3. “?” 

Hati-hati sahabat, terkadang bila ada “?” di akhir kalimat, namun konteks bukan berupa pertanyaan, biasanya isinya hoax ataupun opini yang kurang pro. Mungkin perusahaan media udah tahu kalau itu bukan informasi yang layak, namun, mereka mengejar “target” sampai-sampai rela membuat berita hoax. Misalnya berita diatas, diambil dari media parodi LAGI

4. Sumbernya terkadang hanya berasal dari satu sumber


Sebenarnya saya tak masalah bila sumber itu menyeluruh, misalnya penyelidikan, ataupun survey. Tapi terkadang media membuat topik berita dari sumber minim yang memang masih diragukan. Misalnya dari omongan satu politikus tapi anehnya di nyelenehkan ke satu partai. Padahal tidak selamanya pendapat satu orang mewakili satu kelompok. Biasanya sih tipe berita politik.... berita ini biasanya hanya diambil dari ocehan politikus tanpa melakukan selidik lebih dalam bahwa kebenaran dari ocehan sang wakil rakyat itu benar apa tidak. Banyak orang yang gak percaya sama wakil rakyat, anehnya percaya sama berita dari narasumber wakil rakyat.

5. Sumber dan kapan diambil tidak <selalu> Terpecaya


Ada kabar bahwa para jurnalis sekarang sangat lemah dalam melakukan research, jadi, ketika melakukan liputan dengan tema yang sudah ditentukan, malah saat mengelola dapat melenceng ke topik lainnya. terkadang media metropolitan ini copas mentah-mentah (seperti kasus mole people). Dan biasanya media massa ini paling sering copas dari Burlingtown News, nationalreport, The Onions, weekly world news,  apalah, tapi walaupun nama situsnya megah, mereka hanyalah situs parodi!! Alias hiburan!! Memangnya pers ini tempat ngelawak! Ya ampuuun.

Coba kalian lihat berita lain, coba dilihat, mulai dari foto, benarkah diambil ditempat TKP, bukti narasumber, kalau perlu foto narasumber ditempat wawancara. Pernahkah kalian lihat, paling ngambil dari dokumen sebelumnya.

Contohnya: saat pemilu, padahal belum menang secara perhitungan kpu, namun kedua kubu sudah yakin bahkan langsung pesta-pesta. Padahal udah tahu quick countnya sudah nyeleneh gitu. Hal ini salah satunya karena informasi dari masing-masing media bahwa si kubu sudah menang.

6. Bahan pemberitaan sering melenceng dari topik awal yang dibahas

Berbeda dengan media kelas internasional, kalau sudah punya satu topik, ya itu, topiknya harus lebih dalam pembahasannya. Tapi hal itu tidak sama dengan media di Indonesia, walaupun memang gak terlalu melenceng. Misalnya saja: Kasus kecelakaan si A, kemudian plesetkan ke ‘Almarhum A, sebelum kematian sempat ziarah ke makam si B’. Nah, loh . What do you talking about? What do you talking about.

Yang paling khas adalah saat pemberitaan meninggalnya orang terkenal, selalu saja ada kaitannya dengan peristiwa mistis, aduh, absurb banget deh. Mau percaya, gak percaya, saya sih lebih gak percaya. Soalnya urusan dunia lain sudah beda dengan dunia yang ini.

7. Mistis



Gak perlu dijelasin lagi, sudah ada di nomor 6.


8. Terfokus pada mengejar ‘target’ perusahaan


Baik acara televisi maupun media massa, Hal-hal di atas mungkin terjadi karena tuntutan dari ‘target’ dari perusahaan, seperti menghamba rating, dan mendulang duit dari iklan. Jadi mau tidak mau penulis menggunakan berbagai cara tidak halal. Hebatnya lagi, awak media sangat jago dalam menyamarkan ‘cara’ tersebut. Kita tidak bisa selamanya menyalahkan penulis, mungkin sipenulis ditekan habis-habisan oleh bosnya. Target kliknya harus segini! Kalau gak kamu saya pecat. Daripada di pecat si editor (penulis) dan gak bisa beli beras.


9. Diduga <benar> tidak Netral, ada politik

Prinsip media adalah netral memberi informasi jujur, namun tahukah kamu bahwa kamu bisa lihat saat pemilu kemarin hingga sekarang, bahwa media berpihak tidak netral. Misalnya Tvsatu, metromini, kompos, dan lainnya. Orang yang menguasai media, ialah orang yang citranya sangat baik di mata rakyat.

10.  Bisa seperti ini isi dengan hasil wawancara



Pesan untuk sahabat: Jangan pernah menelan mentah informasi di Internet, harus pandai-pandai melakukan seleksi. Jangan terbawa amarah dengan kabar siur, ocehanmu tidak akan mengubah apapun yang terjadi, mungkin ocehanmu dan jutaan ocehan lain hanya akan dijadikan menjadi berita baru demi mendapatkan rating.

thanks to kaskus

#SaveAhok vs #SaveHajiLulung, Antara Ahok vs DPRD
#SaveAhok dan. #SaveHajiLulung, dua hashtag yang ibarat air dan api. Ini merupakan ungkapan kreatif para netizen dunai maya yang menyatakan rasa prihatinya ketika kubu Ahok dan DPRD sedang bertikai.

seperti kalian tahu, ketidakakraban ini disebabkan oleh RAPBN 'anggaran siluman' yang nilainya bertriliunan. 

api ini terus merambat dan berkobar di tempat lain. Melahirkan api baru. Misal:
Ucapan jelek para dprd yang menyebut nama hewan ke saat mediasi lalu. Dan lebih kritis lagi, bagaimana pula tanggapan tentang ucapan kotor Ahok secara live di media massa?
Dan masalah baru yang tak kamu sadari, bagaimana cara kamu menanggapi hal tersebut? Ikut menghina salah satu kubu?  Sebagai salah satu bentuk bebas menyampaikan pendapat? Hehe.. Ane boleh ikut gak?

Oke to the point tentang tragedi ini.

Hal ini persis seperti quote bijak yang dikatakan patrick "aku benci konflik" memang benar adanya. Si donat A mengungkapkan bahwa dirinyalah yang benar. Sama halnya dengan si donat B, "jangan percaya dia, lihat, dia ditaburi biji wijen".



#masakecilbahagia


Ternyata salah satu cuplikan episode spongebob itu memang benar persis dengan apa yang terjadi antar #Ahok dan DPRD- Sama-sama gak mau mengalah. Kalau saya ditanya Siapa yang benar siapa yang salah?  Yah saya jawab. "Yang (selalu) benar Tuhan, yg (sering) salah manusia".


So, mari kita ungkap setiap 'bug'nya.


  • Pertama tentang Ahok.


 Bagaimana saya mengungkapkannya?

Terimakasih ya pak gubernur.
Itulah yang akan saya ungkapkan. Mengapa?
Saya belajar dari Bapak. Arti peribahasa dari 'mulutmu harimaumu' dan 'Seribu kebaikan, hilang dengan satu keburukan'. Ya, yang patut diteladani dari sosok Ahok adalah kegigihannya.

#sakitnyatuh disitu saya merasa sedih.



Tidak setuju dengan ungkapan saya, oke, tapi tunggu dulu..

Mari kita #mikir


Memang gak baik kalau berbicara kotor. Tapi saya juga gak bisa mengelak, bahwa di lingkungan masyarakat saya anak SD tuh dah lebih fasih dari pak Ahok lho. Lebih mantep lagi mereka sudah tahu caranya mouth to mouth. #yikes.

kalau saya dalam posisi Ahok... wuss mungkin lebih banyak lagi kata kotornya - Seven Dirty Word. Lho kenapa?
Nah coba agan bayangkan. Bagaimana rasanya ditekan oleh teman-temanmu. Kamu yang disalahkan, padahal kamulah yang benar,  lebih buruk lagi, kamu seorang diri. 

Gimana rasanya?

Pastinya kamu akan out of control.Tapi ingat, jangan ditirru hal-hal negatif yang ia lakukan.
 

Menurutku ucapan Ahok "Lebih baik" 


Dan menurutku apa yang dilakukan Ahok itu 'lebih baik' dari pada para pejabat lain.

Kita lihat aja, para tikus berdasi. Omongannya sejuk, tapi dalemnya busuk. Mereka mengucapkan bismillahirrohmanirrohim, insyaallah, tapi dibalik ucapan tersebut, mereka menyogok, menyuap, KORUPSI.
Yah karena itulah. Saran saya jangan memilih calon yang mengatasnamakan agama. Agama kok diselewengkan buat politik busuk. Gak percaya? Penggandaan alkitab aja udah dikorupsi. Itumah sama aja dengan pengurus masjid nyolong kotak amal, hehe..

#mikir

Untuk DPRD 



Setelah itu DPRD wuss yang tegaslah. Bise rusak jiwa raga ini bang...
ingat apa yang dikatakan kubu DPRD ini ketika ditanya.
A:         Apakah bapak/Ibu setuju dalam pemberantasan korupsi?
B:         Ya. Saya setuju "disisipi kata kata bijak".
A:     Terus kalau ternyata anggaran (RAPBD)nya ada dana yang mencurigakan begitu, mau kah jenengan mendukung pemeriksaan RAPBD.   
A:         Oh. Ya tentu. Kami sangat setuju.
Untungnya aja yang jadi reporter bukan saya.
Kalau saya, langsung aku kasih pertanyaan tambahan.
A:       Kalau begitu, mengapa Anda turut setuju  menggusur Ahok melalui hak angket?
A:      Kalau memang Anda setuju pembasmian korupsi. Dan melihat dana siluman ini, memangnya masuk akal gak? Coba deh beritahu kami harga tiap satuannya.

DPR emang gitu, anggarannya langsung muncul tanpa penjelasan yang jelas. Kok bisa UPS rumah sakit yang harganya 1,3 M Kalah dengan UPS sekolah yang harganya 6 M, pas ditanya harga satuannya eh malah bungkam.

Apa yang bisa kita petik?

  Emang udah gak bener keadilan di Indonesia, bagai mencari jerami di tumpukan jarum. Udah susah, sakit lagi. Di Indonesia uang didewakan, sogok dan koruptor menyatu dari sabang sampai marauke. Memang banyak pejabat koruptor yang tertangkap, namun lebih banyak lagi yang masih bersembunyi diselokan.

intinya kalian ambil sisi yang positif. Jangan saling menyembur antar sesama. Tuh, gak ada yang ngaruhkan. Catatan, saya tidak memihak kedua kubu lho.

key: ahok anggaran siluman, ahok angket, ahok akan dilengserkan, vs lulung, meme


Apakah ini mengandung unsur politik, harap baca sampai habis!

The journey


Beberapa hari yang lalu di Tempat saya, tentu saya samarkan agar tak menyebabkan huru-hara diadakan event sosial untuk merayakan hari Ultah daerah kami, pasti segala event sosial sangat kita dukung, minim bilang setuju. 

*Picture Source : Vanilla Twillight - Owl City
Tetapi kali ini, saya benar-benar ragu, mengapa? Saat itu event yang diadakan adalah kacamata gratis, dan membuat surat aspirasi untuk siswa sekolah dan kuliah... sekali lagi, mengapa saya ragu? Didalam penulisan selalu ada tulisan dari pak bupati. Tahukan maksudnya? Contoh: diadakan periksa mata dan gratis kacamata dari Bapak Bupati, bagi pemberi ide terbaik akan mendapat hadiah komputer dari Bapak Bupati.  Nah, sekarang saya tanya, setelah itu teman-teman jawab; Apa yang salah? Whats wrong?

Argumentasiku adalah kemungkinan jelas, kalimat itu berisi politik. Terus bagaimanakah yang benar? Tepat! Diadakan periksa mata dari pemerintah kabupaten, tetapi banyak sekali yang menyatakan Bapak Bupati, memang yang membiayai seluruh kacamata, pemeriksaan, atau event tersebut, pak Bupati seorang diri? Individual sekali;

Sekarang, mari membuat sugesti, ada beberapa faktor yang menjelaskan alasan di atas, berikut ini penyebab yang mungkin:
  • Salah Tulis, sang pengurus di suruh pak bupati membuat event, karena disuruh dari pak bupati, akhirnya ditulis deh ( Kecil kemungkinan, karena sekolahku juga mengumumkan dari pak bupati, padahal karena ini formal, seharusnya bukan dari bupati, melainkan dari pemerintah). Kalau memang ini yang terjadi, berarti, samisarah bupati mungkin ikhlas melaksanakan event itu.
  • Ingin mencalonkan diri menjadi Bupati Periode ke 2
  • Ingin mencalonkan jadi Gubernur, menteri negara, dll
  • Ingin mencalonkan jadi Presiden ( Impossible chance)

Jadi dari kemungkinan diatas, teman-teman bisa mengetahui yang mana yang mempunyai kemungkinan besar. Ya, memang benar saya sedikit ‘memancing’ jawaban kepada teman-teman saya, dengan mengatakan kepada teman-teman saya bahwa Bupati ini tidak baik. Soalnya tahu atau tidak, kalau saya tanya secara blak-blakan, ‘Bupati kayak gini baik nggak?’ Pasti sebagian besar bilang tidak tahu. Tapi, setelah saya pancing, mereka menjawab seperti ini, ‘lho gak lah, justru Bupati ini yang baik’.

Back to My Journey........


Setelah pembagian kacamata, beberapa hari kemudian diadakan event pembagian surat... 
“Pengumuman, pengumuman, diadakan bla...bla... dari pak Bupati (Lagi!) bagi 3 pelajar pemberi aspirasi terbaik se kabupaten (sensor) akan mendapatkan hadiah, juara 1 komputer, printer, dan beasiswa, bla,bla,bla”

Isi Surat 

Nah, satu lagi yang diutamakan sang bupati lagi..., So, aku juga mengirim surat pula, jangan tanya, alasannya, saya bikin setengah hati di sekolah kurang dari satu jam karena event ini benar-benar ada bau politik individunya. Jadi inilah isinya,
Surat kepada Bupati atau Surat kepada Pemerintah  --- yang berwarna hijau diluar dari konteks surat

 

 Surat kepada pemerintah

Bapak Bupati yang terhormat, terima kasih telah mengadakan kegiatan sosial ini, sebuah kegiatan demi kesejahteraan yang Bapak lakukan benar-benar kreatif dan telah membuka pintu peluang bagi para pelajar untuk menyampaikan aspirasinya. Sebagai pelajar saya hendak menyampaikan empat saran, mohon minimum Bapak baca.
Pertama, Pak Bupati, Indonesia, dan tentu termasuk wilayah yang bapak tanggung ini, mengalami peningkatan ekonomi yang meningkat pesat. Sayangnya, hal ini sama seperti air, masih anomali. Kemiskinan lebih pesat lagi, Hutang semakin menumpuk, banyak kekurangannya. Tetapi pemerintah malah menunjukkan sisi positifnya, menutupi kelemahannya, kita hanya tahu apa yang bisa kita rasa dengan indra kita, jadi, orang terkreatifpun seolah ‘hidup tetapi akalnya beku’. Seandainya pemerintah lebih terbuka mungkin akan lebih baik.

*Paragraf ini menyindir pak SBY saat pidato terakhirnya sebagai presiden yang terus mengatakan sisi positif hasil pemerintahannya secara kompleks, tanpa mengatakan kekurangannya secara detil; misal korupsi (maaf bila menyinggung).
*Paragraf ini pula menyindir pak Bupati yang menyuruh siswa/pelajar menyampaikan aspirasinya tapi tak tahu kekurangan pemerintahannya Pak Bupati..

Kedua, apa yang dilakukan Indonesia ini ibarat orang yang berpura-pura tertidur, mereka menginginkan sesuatu yang indah dengan cara instant dan tetap, sehingga walaupun benar itu mimpi indah tetapi nasib mereka tetap sama, sama seperti bangun tanpa melakukan sesuatu. Tolong Bapak hayati.
*Paragraf ini menyindir pemerintah yang melakukan kegiatan yang tak beresiko, dan instant, tapi sia-sia, seperti BLT, Harga BBM yang menjumplak tapi tidak ada cara menutupinya.

Ketiga, sebagai kepala pemerintah, seharusnya Bapak tahu apa itu ‘wakil’, misalnya saja, mewakilkan harapan, aspirasi, wakil ketua dan wakil lainnya. Menurut saya wakil itu adalah Awak karo Sikil, jadi, apa yang terjadi ketika kepala tak sanggup berinteraksi dengan wakil?
*Sindiran kepada bapak Bupati, yang hanya mencantumkan dari Bupati, bukan pemerintah kabupaten, sehingga tokoh utamanya adalah pak Bupati, dan pemberi ide tidak dicantumkan

Keempat, saya mohon maaf seikhlas-ikhlasnya, karena surat ini saya sampaikan bukan kepada Bapak saja, tetapi kepada pemerintah, bukan pula untuk mendapatkan hadiah. Andai kegiatan demokrasi ini tidak ‘berhadiah’ saya akan lebih aspiratif lagi.
*Sindiran kepada (mungkin) ide sang bupati ini....

Oke Kesimpulan

Kalau benar Bapak Bupati itu niat ingin mencalonkan lagi. Boleh saja mencampurkan hal politik tetapi janganlah terlalu mengambil lebih besar daripada apa yang dihasilkan, apalagi kalau event ini murni sosial. Karena kalau seperti ini mungkin bisa berbau money politik right? Dalam mencapai kesuksesan, kita boleh mengambil hal individu, lebih terkenal, Pintar, dan Tinggi jabatannya. Tetapi berbeda dengan beberapa orang --- yang kami inginkan adalah bukan menjadi sukses, tetapi membuat orang menjadi sukses adalah kebanggaan tersendiri.

Maaf bila menyinggung atau menghina, tapi bukan itu maksud saya, saya juga pula bermaksud sok benar, karena saya bukan orang bijak, ini hanya pendapat kalau benar event ini bertujuan untuk kepentingan pribadi. Anda setuju? Punya pendapat? Silahkan komentar... yang baik sebagai bukti bahwa teman-teman bertingkah sebaik perkataannya.

Kali ini saya mempublikasikan artikel tentang pendapat saya dalam dunia perpolitikan. Saya tidak peduli artikel ini dilihat sedikit orang atau apa. Tetapi saya agak kesal dalam politk ini, mulai dari koalisi partai, sampai memilih Calon Presiden dan Wakil Presiden. Banyak yang aneh.
Dunia Politik selalu menjadi objek yang menggiurkan  untuk diterjuni. Dunia Politik juga bagai dunia "dakwah" yang terbuka. Oleh karena itu banyak tokoh, orang kaya, bahkan artis banting setir terjun ke dunia politik. Fenomena ini membuat rakyat bingung harus memilih siapa.
"Aroma politik ini semakin semerebak ke seluruh pelosok negeri. Jadwal kampanye Para Calon Presiden semakin padat. Setiap mereka iming-imingkan  janji yang membuai. Rakyat kecil pun bingung menentukan pilihan mereka. Siapakah calon yang pantas untuk dipilih? Berikut pendapat dan Saran saya.

Kira-kira bagaimana bentuk politik Indonesia saat ini?

Politik Indonesia sekarang ini adalah politik yang sudah tidak lagi mempedulikan partainya berideologi apa, apakah nasionalis, ataukah Islam, ataukah ideologi lain, terutama dalam koalisi antar partai.

Sehingga kondisi masyarakat sekarang kehidupannya adalah kehidupan yang materialistis, hedonistis, masyarakatnya sibuk dengan urusan duniawi, menjadi pragmatis juga karena terbentuk oleh politisi atau calon legislatif yang itu-itu saja. Tidak mengakar ke masyarakat hanya mengandalkan uang, uang, uang. Inilah menurut saya yang sangat membahayakan politik di Indonesia.


Syarat-syarat seorang pemimpin?

Pendapat Saya dalam Memilih Calon Presiden (Pemimpin)Pertama, politik itu kan menjaga agama, karena agama itu yang akan membawa masyarakat selamat bahagia di dunia-akhirat, di mana itu merupakan tujuan akhir dari pada kehidupan umat ini, tetapi juga wa siyasatid-dunya, bagaimana kesejahteraan masyarakat terwujud, kalau kita terjemahkan secara bebas bagaimana masyarakat berhak dengan fasilitas yang disediakan sesungguhnya disediakan oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan.” (Al-A’raf:10)

Tapi kalau negara sudah tidak peduli pada wa siyatid-dunya, ndak ada perlindungan terhadap pangsa pasar masyarakat yang punya potensi, punya aset dengan buah-buahan, ya masyarakatnya akan cenderung terzalimi, terinjak-injak, akan selalu miskin, kan sekarang itu sudah mulai kelihatan. Sehingga siapa pemimpin yang layak? Ya, memang tidak ada yang sesuai dengan kriteria yang ada dalam kitab. Tapi kita kan punya dalil al-amtsal tsummal amtsal. Artinya mana yang lebih mendekati?

Tapi yang paling pokok adalah  lihirasatid-din maksudnya orang itu harus agamis, walaupun agama di Indonesia berbeda-beda.  Seorang pemimpin (presiden) harus tahu bagaimana cara mewujudkan kehidupan agamis tanpa rasis.

Selain syarat itu, ada lagi. Kedua, Indonesia-kan negara bhineka yaitu negara yang berpedoman pada Pancasila. Jangan sampai Indonesia ini menjadi negara Liberal, yang serba bebas.

Kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat, pemimpin (presiden) itu siapa? Pemimpin itu yang menjadi manajemen. Pemimpin harus paham dengan kondisi Indonesia. Pemimpin sudah teruji, kelihatan dengan pengalaman-pengalamannya dia memang punya cancern untuk kesejahteraan masyarakat. Maksudnya, kita harus memilih calon presiden yang sudah punya pengalaman  dan teruji, dia punya kemampuan manajerial, melindungi rakyat dan bangsa.


Pesan saya sebelum memilih calon Presiden dan cawapres

Sebenarnya kalian sudah tahu bagaimana memilih Partai Politik, Calon legislatif, Calon Presiden, dll. Tetapi ada tambahan dari saya.

Ini resepnya,  bagi yang tidak faham harus bertanya pada yang faham, jad ada timbal balik, orang yang mempunyai pemahaman kepada beberapa caleg, yang sudah paham urusan politik itu juga harus memberi tahu kepada yang belum paham, yang belum paham juga supaya tahu dan mendengarkan. Sekarang kan nggak, yang nggak paham, masyarakat umum itu sepertinya sudah menjadi mujtahid politik, artinya dia sudah menentukan. Lihat iklan capres, ah saya pilih ini sajalah. “Wah menurut saya ini”. Hati-hati sajalah, sekarang Indonesia sudah terlihat Liberalnya, mementingkan Individu, KKN everywhere. Jangan sampai Negara kita seperti Negara Timur-Tengah, saya melihat Negara Timur-Tengah benar-benar teracak-acak oleh Amerika Serikat.   

Bagaimana denganmu apa punya pendapat lain? Silahkan comment.  

Terima kasih sudah berkunjung di website saya. Kalau artikelnya membantu tolong like dan subscribe (di pojok kanan atas dan samping terdapat beberapa ikon), kalau artikelnya kurang membantu tolong berikan saran yang baik, dilarang spam dan bertasbih kotor di website ini.

Refano Pradana

{google-plus#https://plus.google.com/u/0/112244076923112035800/} {pinterest#https://id.pinterest.com/apsdbgsmgs/}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget